| Leukemia masa anak-anak |
| Saturday, 03 May 2008 | |
|
Adanya anggapan bahwa ancaman menderita suatu penyakit di masa anak-anak, akan merubah cerita hidup saat dewasa kelak. Boleh saja anggapan itu dianggap benar, namun tidak dapat dijadikan sebuah kebenaran mutlak. Kemungkinan menderita sebuah penyakit tidaklah dapat dianggap selalu sebesar 100 persen, jika dapat mengenal penyebabnya, dan kemudian mencari cara agar dapat menghindarinya. Mengingat kembali pada Jenis leukemia yang paling sering terjadi adalah : - Acute lymphocytic leukemia (ALL); - Acute myeloid leukemia (AML), biasa disebut juga Acute Non Lymphocytic Leukemia (ANLL); - Chronic lymphocytic leukemia (CLL); - Chronic myeloid leukemia (CML). Kejadian Leukemia pada anak-anak Pada beberapa data sekunder yang bersumber pada rilis hasil penelitian kesehatan, pencatatan beberapa rumah-sakit dan data departemental, kejadian leukimia yang menimpa anak-anak adalah jenis ALL. Usia para penderita berkisar antara 2 tahun hingga 8 tahun, dengan keseringan terjadi pada usia 4 tahun. Sayangnya memang tak terdapat pencatatan yang lebih lengkap yang dapat digunakan sebagai jawaban, mengapa tingkat keseringan terjadi pada usia tersebut. Pada tindakan yang telah dibatasi pada pencatatan beberapa rumah sakit dalam kurun waktu yang sama, diperoleh bahwa kemungkinan seorang anak terserang leukimia antara 20% hingga 25%, pada jenis ALL atau AML. Seorang anak akan memiliki kemungkinan terserang lebih tinggi, 2 kali hingga 4 kali, bila memiliki kembaran identik. Juga pada anak yang memiliki hasil penurunan kelainan genetis dari orangtuanya, seperti sindroma Li-Fraumeni, Down, Kleinfelter, neurofibromatosis, ataxia telangectasia, atau pun anemia jenis Fanconi. Beberapa informasi tentang kemungkinan lebih besar terserang leukimia juga dimiliki oleh anak-anak yang menerima asupan obat peningkat imunitas tubuh setelah transplantasi organ. Seperti pula yang menerima tindakan penyinaran atau tindakan kemoterapi karena menderita kanker jenis tertentu, dalam kisaran waktu 8 tahun setelah tindakan tersebut. Dalam penelitian-penelitian yang dikembangkan dalam beberapa topik pengamatan, selain pada kasus hereditas atau keturunan, yaitu pengaruh lingkungan dan pengaruh tindakan pengobatan, masih terdapat probabilitas ketidakpastian yang tinggi pemberi pengaruh yang sedang diamati. Dengan kata lain, bahwa kejadian terserang leukemia dapat pada siapa pun tanpa dapat diduga penyebabnya. Beberapa usaha yang telah dilakukan agar kejadian serangan leukimia menjadi kecil, antara lain mengurangi penyinaran pada ibu hamil, yang juga dicurigai sebagai pemicu kejadian leukimia. Tentu saja informasi bahwa seseorang sedang atau diduga mengandung harus diperoleh dokter, agar dapat terhindar dari tindakan penyinaran atau menundanya. Kehati-hatian tinggi ini dilakukan dengan mengingat bahwa penyinaran dapat akibatkan mutasi sel. Pencatatan lebih detil menunjukkan gambaran fisik penderita leukimia antara lain, kulit yang sangat pucat, mudah lelah, nafas tersengal, mudah mimisan, dan rasa sangat nyeri pada persendian. Sementara pada awalnya, penderita akan menderita demam yang tinggi. Kisaran catatan juga menunjukkan 12% penderita terserang AML dan sebesar 6% oleh ALL, dengan luasan menyerang organ kepala, seperti sakit kepala, sulit menjaga keseimbangan dan kelainan penglihatan. Pada ALL tercatat keluhan pada nyeri-dada, dan akibatkan kesulitan pernapasan juga pada jantung. Penanganan pada penderita leukemia sangat disarankan untuk dikonsultasikan intensif pada seorang dokter yang memiliki kemampuan sebagai pediatric oncologist, seorang specialis kanker yang menyerang masa kanak-kanak. Karena itu, betapa sangat dibutuhkan informasi yang lebih luas dari sekedar pencatatan angka kejadian. Karena akan lebih penting lagi adalah informasi penghindaran, pencegahan dan cara perawatan pada anak penderita leukimia, mengingat pada potensi masa depannya. Sehingga anggapan yang tidak perlu dapat diabaikan masyarakat. |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|





