Tuesday, 06 January 2009
Mengelola Rasa Takut Gagal
Tuesday, 16 October 2007

Prinsip: Berdayakan karyawan dengan mentolerir kegagalan agar mereka lebih berani mengambil resiko yang lebih besar dan mendorong batas-batasnya sehingga mereka mampu menemukan kemampuan mereka yang sebenarnya. Mentolerir kegagalan adalah kelanjutan dari upaya anda untuk membebaskan karyawan dari rasa takut pada kegagalan. Sekali lagi tugas anda adalah mengubah pola pikir karyawan yang mungkin sudah berurat akar.

Dalam sejarah, orang-orang yang telah berhasil mencapai keberhasilan besar dalam kehidupan adalah mereka yang tak gentar menghadapi kegagalan. Mereka bukan hanya berkali-kali mengalami kegagalan namun juga dalam skala yang besar. Namun mereka mampu memandang kegagalan sebagai sahabat dan batu loncatan untuk meraih sukses.

Banyak orang menganggap kegagalan sebagai hambatan sehingga mereka takut melakukan sesuatu. Rasa takut inilah yang harus dibebaskan karena ia musuh keberhasilan. Untuk itu anda perlu mentolerir kegagalan yang terjadi pada karyawan anda. Namun, tentu saja ada bentuk-bentuk kesalahan dan kegagalan yang tidak dapat anda tolerir. Anda tidak disarankan untuk membuat karyawan anda bersikap acuh tak acuh saat mereka melakukan kesalahan. Bla demikian maka anda sama saja menggagal karyawan anda. Inti dari anjuran ini adalah membebaskan karyawan dari ketakutan agar mereka dapat mencurahkan segenap kemampuan mereka mengerjakan tugas-tugas mereka. Bila mereka gagal, bangkitkan kesadarannya untuk memandang kegagalan sebagai pengalaman besar, bukan sebagai noda hitam di catatan karier mereka.


1. Jangan biarkan karyawan anda gagal
Tidak ada gunanya anda mentolerir kegagalan bila anda membiarkan mereka gagal. Bantulah mereka meraih keberhasilan. Terapkan saran-saran yang ada pada bab-bab sebelum ini. Dengan menerapkannya anda dapat menciptakan suasana kondusif bagi pencapaian keberhasilan.

2. Antisipasilah dan pikirkan kemungkinan terjadinya kegagalan
Bersikap waspada jauh lebih baik. Cari tahu dan pikirkan semua kemungkinan berhasil dan gagal. Bersikaplah realistis dalam memandang situasi dan kemampuan karyawan anda.

3.Pertimbangkan kerugian potensial akibat kegagalan
Untuk menentukan kapan dan bagaimana mentolerir kegagalan karyawan, tanyakan pada diri sendiri hal-hal berikut: Apa kerugian bagi departemen dan perusahaan, karyawan, dan anda sendiri? Bila kerugian yang mungkin terjadi terlalu besar, lakukan upaya-upaya untuk menghindarinya.

4. Berikan petunjuk dalam menghadapi kegagalan
Ini akan memberikan rasa tenang pada karaywan dalam menerima gagasan untuk mengambil resiko. Memang bagi karyawan yang telah berpengalaman,mereka menyadari adanya beberapa kegagalan yang tak dapat ditolerir. Petunjuk itu juga berguna bagi anda kelak bila anda harus memberikan teguran.
a--Kesalahan satu kali adalah wajar, namun membuat kesalahan yang sama dua kali adalah hal yang tidak dapat diterima.
b--Kegagalan dapat diterima sepanjang anda telah berusaha keras.
c--Jangan biarkan keraguan, mintalah penjelasan dan petunjuk.
d--Kesalahan yang serius adalah bila anda tidak melakukan tindakan aktif dan tak mengambil keputusan.

5. Hargailah karyawan yang berani mengambil resiko
Berikan pengakuan dan penghargaan bagi mereka yang berani mengambil resiko yang telah diperhitungkan. Bila perlu berikan pengakuan itu di depan karyawan lain. Namun, bila kemudian mereka tetap gagal, hargailah keberanian dan jerih payah mereka. Anda lebih senang pada mereka yang berani mengambil keputusan meski keputusan itu kelak diketahui keliru. Mereka yang ragu-ragu dan tak melakukan apa-apa tak pantas mendapat penghargaan apa-apa.

6. Bantulah karyawan anda yang gagal
Jelaskan bahwa anda selalu siap membantu bila mereka gagal dengan syarat mereka benar-benar mengikuti petunjuk yang telah ditentukan. Anda harus bertindak sebagai jaring pengaman dan melindungi mereka dari pihak-pihak yang memanfaatkan kegagalan sebagai kesempatan untuk merugikan bagian atau perusahaan anda. Bantulah karyawan anda menemukan kepercayaan dan harga diri mereka. Kegagalan sama sekali tidak menghapus harga diri seseorang. Jadilah seseorang yang pertama kali memberikan kelonggaran dan meringankan beban dengan mentolerir kegagalan tanpa membuat karyawan merasa dihukum atau dipermalukan.

7. Jangan mempermalukan karyawan di depan karyawan lain
Jangan sekali-kali menegur atau mempermalukan karyawan di depan karyawan lain atas kegagalan mereka. Ingatan mereka akan hal itu akan mengalahkan pujian yang pernah anda berikan.

8. Tolerir kegagalan sambil memantapkan standar
Semakin tinggi standar, semakin penting untuk mentolerir kegagalan. Bila anda menuntut standar yang tinggi yang tak dapat ditolerir, anda menciptakan ketegangan yang menghambat kreativitas dan produktivitas. Sebaliknya, bila anda mentolerir kegagalan tanpa standar keunggulan maka anda hanya memperoleh hasil yang biasa-biasa saja. Bukankah anda hanya mentolerir kegagalan setelah dilakukan upaya keras dan memberikan kebebasan bagi karyawan untuk bertindak?

(disadur dari "The Power Pyramid: How to Get Power by Giving It Away",Diane Tracy)

< Sebelum   Berikut >