Friday, 21 November 2008
Do My People Really Love Me?
Wednesday, 26 March 2008
ImageSalam kelirumologi dari saya, Marbusan!
Saudara, jelang pemilihan Gubernur di negara “Markir Mikir “, Marbusan seringkali termenung memikirkan cara tentukan calon pemimpin yang benar-benar mencintai rakyat. Terutama bagi yang menderita dan rakyatpun mencintai pemimpinnya meskipun tak diberi sembako waktu kampanye. Saat berpikir, tiba-tiba Marbusan teringat dengan seorang filsuf politik dari Italia yang hidup di jaman Renaissance, yang bernama Machiavelli. Marbusan tertarik untuk pelajari filosofi darinya, yang diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat di negara “Markir Mikir”
Saudara, Machiavelli yang bernama lengkap Niccolò di Bernardo dei Machiavelli (3 Mei 1469 – 21 Juni 1527) adalah seorang diplomat , Sastrawan, dan seorang filsuf politik dari Italia yang melalui bukunya berjudul The Prince menggegerkan dunia (sampai sekarang) melalui ajarannya mengenai politik yang bersifat Pragmatis.Ajaran machiavelli kira-kira berinti sebagai berikut “
“One who deceives and manipulates others for gain; whether the gain is personal or not is of no relevance, only that any actions taken are only important insofar as they affect the results. “

Bila kita cermati terjemahan bebasnya bisa dikatakan bahwa menipu, menekan, atau mengkhianati teman bukanlah suatu permasalahan selama dapat membantu seseorang untuk mencapai tujuannya  . Bahkan orang yang mengedepankan ideal sosial seperti Plato dan Aristoteles adalah musuh bagi seorang Machiavellis. Lebih lanjut lagi dalam kedua bukunya , The Prince dan Discorsi ,  Machiavelli berpendapat :
“All cities that ever at any time have been ruled by an absolute prince, by aristocrats or by the people, have had for their protection force combined with prudence, because the latter is not enough alone, and the first either does not produce things, or when they are produced, does not maintain them. Force and prudence, then, are the might of all the governments that ever have been or will be in the world.”

Tiba-tiba Marbusan teringat akan proses pemilihan Gubernur di daerahnya . Marbusan tersenyum mengingat bahwa ternyata banyak calon gubernur yang belum menjabatpun sudah secara tidak sadar menjadi Machiavellis dengan melakukan kekuatan mereka beramai-ramai “mempengaruhi” , atau bisa dikatakan “menipu” masyarakat , namun marbusan yakin 1 juta persen bahwa mereka tidak akan melakukan maintanance  terhadap rakyat begitu menduduki jabatan mereka kelak.

Saudara , setahu marbusan yang sok tahu , KPU belumlah menetapkan waktu kampanye  kita sudah banyak dicekoki berita para calon gubernur yang “sok baik hati” , tiba-tiba rajin keliling daerah mendekati rakyat , menunjukkan mereka “peduli” dan lain sebagainya . Seandainya mereka peduli sebagaimana apa yang mereka omongkan , mengapa tidak melakukan hal yang sama pada saat mereka belum punya ambisi apa-apa tentang suatu jabatan ? Seandainya mereka ikhlas melakukan kegiatannya sekarang ini , mengapa kemanapun mereka pergi selalu ada wartawan yang diundang untuk meliput ?

Belum lagi ada yang  mempromosikan dirinya yang “diutus” atau “dipilih” oleh sang ketua partai menjadi calon gubernur . Mereka memasang fotonya dengan foto sang ketua partai disertai slogan “ calon gubernur yang dicintai rakyatnya “ .Rakyat yang mana? Coba tanyakan pada rakyat korban Lumpur panas di orong-orong (daerah di negara Markir Mikir yang terkena bencana Lumpur panas PT Ladalah) , cintakah mereka pada calon pemimpin mereka ? Calon Pemimpin yang berkampanye di daerah “aman-aman” saja, tapi menjauhi rakyatnya yang menderita ,inikah gambaran calon pemimpin sejati?

Saudara , suatu sore Marmotji pernah menyampaikan uneg-unegnya karena tidak ada satupun calon Gubernur kita yang kampanyenya bersahabat dengan lingkungan dengan bukti banyaknya gambar calon Gubernur yang bertengger manis di dahan pohon. Inikah yang disebut Machiavelli dengan Force?  Merasa aman karena pasti tidak akan ada yang berani protes? Kampanye yang tidak cerdas dan membuang biaya banyak. Marbusan tersenyum dan kemudian mengeluarkan ide untuk mengukur kecintaan rakyat terhadap calon gubernur kita .


Marbusan menyampaikan ide bahwa pemilihan Gubernur Juli besok cukup dilakukan di Orong-orong saja . Masing-masing calon memasang gambar di lapangan terbuka di Orong-orong , dan bersama-sama mereka bisa menyaksikan bahwa siapapun diantara mereka yang posternya masih bersih atau utuh , itulah pemenang yang berhak menjadi Gubernur . Saudara, langkah tersebut adalah tolok ukur begaimana mereka dicintai oleh rakyatnya yang nota bene paling menderita . Pemimpin yang sering mengadakan komunikasi dan pendekatan kepada rakyat yang menderita itulah yang paling banyak mendapat dukungan dan notabene akan menjadi calon yang posternya aman-aman saja .

Saudara, pilihan ada di tangan anda masing-masing .Namun pilihlah dengan dewasa dan nurani masing-masing ,Pilihan anda jugalah untuk memilih antara pemimpin yang Machiavellis ataukan yang social seperti Plato atau Aristoteles.bagaimana  menurut anda . Namun , hati-hatilah dengan apa yang anda cinta.Jangan sampai anda cinta hanya karena rayuan gombal yang tak lama kemudian cintanya hilang, dan tertinggal gombalnya saja .Salam kelirumologi dari saya , marbusan !

< Sebelum   Berikut >