Friday, 21 November 2008
EMPATI yang TERAMPAS
Wednesday, 12 March 2008


Salam kelirumologi dari saya, Marbusan.
Saudara,menyambung dari tulisan saya sebelumnya mengenai HAM antara korban dan pelaku kejahatan. Saya menulis mengenai kenyataan pahit dimana seringkali korban kejahatan disalahkan dan dipinggirkan akibat ketidaktahuannya mengenai esensi kejahatan yang telah menimpanya.
Sungguh ironis,mengingat kita seringkali lupa bersifat adil dan tidak menempatkan empati kita kepada korban, justru kepada pelaku kejahatan.
Bagaimana kajian kelirumologinya ? semoga bermanfaat.

Saudara, ada sebuah petikan pengalaman istri saya, saat berkesempatan menjadi pembicara dalam suatu seminar.
Waktu itu istri saya mengajukan suatu kisah nyata untuk coba dinilai kembali atau direnungkan bersama para peserta seminar.

Kisahnya dimulai dengan adanya pelecehan seksual yang dilakukan oleh (Masya Allah) Bapak kepada putrinya. Dengan alasan si istri tak lagi sanggup melayani hasratnya, maka sang bapak mencabuli anak gadisnya semenjak masih kecil dengan alasan “sayang“.
Si Bapak selalu mendidik dan mengajarkan bahwa ekpresi “sayang” adalah dengan melakukan aktivitas seksual dan walhasil si anak menganggap bahwa hal yang dilakukannya adalah wajar, bahkan suatu kewajiban untuk menunjukkan darma baktinya kepada orang tua.
Hal tersebut berlangsung lama dan si anak baru mengetahui bahwa apa yang menimpanya  adalah suatu kejahatan seksual justru pada saat anak tersebut menempuh jenjang pendidikan master.

Saudara, sayang seribu sayang, ternyata caci maki justru dialamatkan kepada si anak gadis.
“Bagaimana mungkin dia tidak tahu kalau hal itu adalah kejahatan seksual?” 
“Apakah dia tidak mengikuti berita sampai tidak tahu kalau rasa sayang bukan selalu dengan aktivitas seksual?”
sampai dengan kalimat sinis
“ Ah….paling-paling si anak juga “menikmati”!” 

Saudara ,mungkin anda tidak percaya, namun itulah yang terjadi dan sekali lagi (banyak) terjadi,bukan hanya pada peserta seminar saat itu, tapi juga di kehidupan nyata .

Saudara, empati adalah kemampuan untuk turut merasakan apa yang dialami orang lain seolah-olah kita juga merasakan hal yang serupa. Dengan mendapatkan empati, seseorang akan mendapatkan dorongan dan semangat untuk bangkit kembali.
Namun, coba bayangkan bagaimana hancurnya hati si anak bahwa selain ia mendapatkan kejahatan seksual dari sang bapak, ia juga harus mendapatkan “kejahatan emosional” dari orang-orang di sekitarnya.

Ketidakmampuan untuk melayangkan empati,seringkali disebabkan ketidakmampuan akal kita untuk menangkap esensi kejadian yang sesungguhnya atau seringkali pula keengganan kita untuk lebih tahu alasan esensial yang melatarbelakangi hal tersebut.

Ketidak-empatian masyarakat di sekitar kita seringkali merupakan cerminan dari prasangka sosial yang digunakan dalam keadaan dimana informasi yang ada hanya ditanggapi oleh logika kelirumologi sesaat dan hasilnya adalah sesuatu yang menyesatkan.

Saya meyakini bahwa hal yang tertangkap oleh mereka hanyalah satu sisi dimana ia melakukan hubungan seksual dengan orang tuanya dimana ingatan seseorang akan langsung tertuju kepada hubungan incest yang dikutuk oleh Agama.

Sayangnya banyak yang lupa bahwa proses terjadinya kejadian adalah tipu daya dan brain washing yang dilakukan oleh bapak kepada putrinya untuk mau melakukan hubungan terlarang tersebut.
Perlu diingat,bahwa hubungan itu dimulai semenjak anak-anak dimana belum ada filter moral yang dapat digunakan si anak sebagai pembeda, mana yang benar dan mana yang salah, apalagi yang melakukannya adalah orang tuanya sendiri,orang yang sangat dipatuhi dan contoh baginya.

Saudara, melalui tulisan ini penulis ingin mengajak anda semua untuk bersikap bijak dalam menyikapi setiap kejadian terutama yang ada kaitannya dengan penilaian seseorang tersebut bersalah atau tidak.

Terlebih apabila kita tidak memiliki informasi yang cukup. Namun,hendaknya anda bercermin pada hati nurani anda,dan tunjukkan empati kepada yang berhak.

Bagaimana, setujukah anda ?

salam kelirumologi dari saya, marbusan!

< Sebelum   Berikut >