Friday, 21 November 2008
Employee Loyalty
Ditulis Oleh: marbusan   
Tuesday, 28 August 2007

Salam Kelirumologi dari saya , Marbusan !. Beberapa waktu lalu saya sempat berdiskusi dengan Marmotji dan Marmujen.  Satu topik menarik yang sempat dibahas adalah loyalitas karyawan. Saudara, kembali saya akan mengajukan test case pada anda. Bayangkan anda adalah seorang CEO atau  seorang Manajer SDM. Apakah anda senang memiliki karyawan loyal? Pertimbangkan beberapa pandangan berikut secara kelirumologis.

Saudara , beberapa waktu yang lalu marmotji pernah bercerita mengenai hasil skripsi seorang rekan yang hasilnya adalah bahwa loyalitas tidak berbanding lurus dengan keterampilan yang tinggi . Mengapa demikian ?
Bila kita melihat dari sudut pandang need hierarchy of Maslow’s dapat kita lihat bahwa kebutuhan self esteem dan self actualization berada dalam tingkatan yang lebih tinggi daripada physiology need. Hal ini berarti bahwa karyawan yang loyal bukan selalu karyawan yang berskill tinggi karena bisanya mereka memiliki karakteristik tertentu , misalnya:

1) Sudah tua dan  tidak punya skill khusus,

2) Tidak punya need of achievement ,

3) Orang-orang yang terkena burn out .

Mari kita lihat penjelasannya.
Saudara , di satu sisi yang bagi beberapa orang akan terlihat seperti pandangan apriori, loyalitas hanya berlaku bagi orang yang tidak memiliki nilai tawar dalam satu perusahaan  bisa karena mereka yang sejak awal kompetensinya rendah , karyawan yang berpotensi tinggi namun kurangnya pendidikan dan pelatihan menyebabkannya kehilangan kompetensinya tersebut, atau orang-orang yang highly potential namun kehilangan gairah kerja dan terlalu takut untuk keluar dari perusahaan tersebut .


Bagaimana bila anda menyangkal perkataan saya diatas dengan menyajikan kenyataan yang berbeda ? Inipun sebetulnya dapat dijelaskan bahwa kemungkinan karakteristik kelompok kedua ini berbeda dengan yang pertama . Kelompok kedua yaitu kelompok yang loyal namun berskill tinggi adalah orang yang biasanya memiliki karakteristik sebagai berikut :

1) Biasanya berusia mature ( mulai usia 35 tahun ) dimana kestabilan emosi dan financial maupun pekerjaan bisanya sudah mapan  serta mereka memiliki keluarga yang harus dihidupi

2) Memiliki jabatan tertentu . Dalam pekerjaan biasanya dalam usia sedemikian sudah ada pos-pos (jabatan ) tertentu yang diraih sehingga loyalitas akan terbentuk karena mereka juga bertindak sebagai role model bagi para juniornya . Dan dari sudut pandang persaingan kerja , loyalitas yang mereka tunjukkan dibarengi dengan skil yang baik merupakan alat untuk melakukan pendekatan kepada atasan agar jabatan yang mereka peroleh dapat bertahan lama .

3) Masa kerja di perusahaan tersebut lebih dari 7 tahun .  Mungkin anda bertanya mengapa saya menulis masa kerja 7 tahun ? Saudara , dalam kajian Psikologi Industri , masa 7 tahun adalah masa yang harus diwaspadai karena dalam masa tersebut burn out biasanya muncul . Pada pengamatan yang saya lakukan di kantor , saya mendapatkan gambaran bahwa pada usia kerja yang ke-10 , baik karyawan tersebut menduduki jabatan tertentu atau tidak , maka angka pelanggaran disiplin , angka penggunaan ijin selain cuti , ataupun angka mangkir menduduki tempat terendah dibandingkan dengan kelompok usia 5-10 tahun yang notabene masih rawan dengan burn out .

Loyalitas adalah suatu pilihan untuk bertahan dalam suatu pihak atau tempat . Yang menjadi masalah adalah bukan mengenai keputusan menjadi loyal atau tidak , tapi alas an apa yang mendasari untuk menjadi loyal .Selain itu kita sebagai Manager SDM maupu pelaku industri harus bisa menelaah mana loyalis sejati di perusahaan kita . Bagaimana, apakah anda setuju dengan saya ? Salam kelirumologi dari saya , Marbusan !

< Sebelum   Berikut >