Friday, 21 November 2008
MAHA(ncur)SISWA dan UNJUK (keke)RASA(n)
Monday, 30 June 2008
Salam kelirumologi dari saya, Marbusan. Kali ini Marbusan sangat bersedih melihat adik-adiknya yang mahasiswa kehilangan orientasi ilmiah sewaktu berunjuk rasa. Lebih sedih lagi, karena adik-adik mahasiswa sudah memelesetkan dan mengkelirumologikan unjuk rasa menjadi unjuk (keke)rasa(n) sehingga banyak orang kemudian mengkelirumologikan mahasiswa menjadi maha(ncur)siswa ..

Saudara , siapapun akan setuju bahwa agen perubahan sebuah negara adalah mahasiswa. Betapa banyak  perubahan di dunia dipelopori oleh kaum (yang dipandang) intelektual ini. Reformasi Mei 1998 di Indonesia, demontrasi Tiananmen 1989 adalah contoh pergerakan yang dipelopori oleh mahasiswa.

Setiap gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa memang relatif  banyak didukung oleh masyarakat karena mahasiswa dipandang sebagai kelompok pembela rakyat yang tulus, idealis, dan tanpa pamrih apapun .Namun apa jadinya bila gerakan mahasiswa justru menimbulkan ketakutan dan pengrusakan fasilitas masyarakat ?

Saudara, unjuk rasa adalah hak intelektual seseorang atau kelompok dalam mengakomodasi pemikirannya. Namun sayang, unjukrasa selalu berkonotasi pada unjuk (keke)rasa(n) dimana ada pemaksaan, pengrusakan, dan kerugian banyak pihak. Mahasiswa sebagai agen intelektual pun tidak bisa lepas dari stigma ini.

Betapa banyak permasalahan yang bisa ditangani dengan akal jernih berubah menjadi alasan yang melegalkan mahasiswa melakukan tindak kekerasan yang jauh dari nilai intelektual. Di Surabaya masih kita ingat kasus Unitomo dan ITATS ,lalu ada tawuran Univesitas Muslim Makassar, lalu kasus demo mahasiswa Unas melawan Polisi di Jakarta.

Lucunya,mahasiswa kok bawa bom molotov yang sudah disiapkan sebelumnya. Apakah memang sejak awal diniatkan untuk “berperang” ? Kalau begitu, benarkah Mahasiswa membela rakyat ? lalu rakyat mana yang mereka bela?

Sayangnya pula masyarakat yang mereka klaim sebagai pihak yang mereka bela, justru tidak merasakan manfaat dari perjuangan mereka.
Demo BBM berubah menjadi demo BBM alias Bakar Bakar Massal. Dan justru demokrasi yang mereka agung-agungkan berubah menjadi demo crazy. Walhasil, mahasiswa yang diagung-agungkan nilai intelektual nya pun dikelirumologikan menjadi maha(ncur) siswa. Dan sedihnya pula, ada pula yang menuding bahwa mahasiswa rajin berdemo sekedar sebagai suatu cara untuk "meniti karir".
Kita lihat sekarang betapa banyak anggota partai dan pejabat yang berangkat dari seorang demonstran. Semoga tudingan yang kelirumologi.

Saya menghormati alasan adik-adik mahasiswa untuk mengadakan demo kenaikan BBM.Saya sebagai psikolog juga paham bagaimana tradisi amok  di negara Asia Tenggara masih sangat kental apalagi dipadukan dengan perilaku massa.

Dalam sebuah acara televisi, seorang koordinator demo tersebut mengatakan bahwa pengrusakan dan kemacetan serta lumpuhnya ekonomi karena demo yang mereka lakukan masih bisa ditolerir dibandingkan kesengsaraan masyarakat akibat kenaikan BBM.
Pertanyaannya, sudahkah mereka memiliki data valid hasil penelitian ilmiah yang dapat digunakan sebagai dasar demo? Benarkah klaim mereka?

Sekali lagi saya bertanya kepada mahasiswa, apakah bisa/diperbolehkan menghancurkan mobil pemerintah yang dianggap menyengsarakan masyarakat? Apakah bisa/diperbolehkan melawan ketidakadilan dengan ketidakadilan yang lain? Bukankah mereka dididik untuk menyelesaikan masalah dengan rasional dan ilmiah. Bukankah lebih baik bertanya dan berdiskusi dengan pemerintah daripada berusaha menyerangnya ? Ataukah ada silap informasi yang tertinggal ?

Saudara, kekerasan hanya menghasilkan penderitaan .Hendaknyalah kita berpikir kembali sebelum melakukan suatu tindakan agar tidak semakin merugikan orang lain.

Bagaimana,apakah anda setuju dengan saya ?
salam kelirumologi dari saya, marbusan !

< Sebelum   Berikut >