Tuesday, 06 January 2009
Mengawal dengan Hati vs Mengawal dengan Mahal
Monday, 24 March 2008
ImageSalam kelirumologi dari saya, Marbusan !
Saudara, di sebuah negara fiktif “Markir Mikir “, saya baca satu berita dari media terbitan daerah tentang kepolisian wilayah itu membeli dua buah sepeda motor merek Harley Davidson yang saya yakin semua orang tahu berapa harganya. Kedua motor gede (biaya) tersebut dipercayakan kepada dua anggota polisi berpangkat Bintara  untuk mengoperasikannya dalam melakukan pengawalan tamu (yang dianggap) VVIP dan sayangnya meskipun data menyebutkan sudah ada sembilan kendaraan motor gede sekelas 900 cc, ternyata tidak cukup “layak” mengawal tamu (yang dianggap) VVIP tersebut.
Bagaimana menurut anda? Berikut perenungan dari negara “Markir Mikir” tersebut. Segala kemiripan kejadian, hanya kebetulan semata .semoga bermanfaat !
Saudara, di negara fiktif bernama negara “Markir Mikir” dimana Marbusan  menjadi tamu (yang dianggap ) VVIP, adalah sangat wajar bila Marbusan merasa sangat bangga bila bepergian “sangat penting” dikawal oleh kendaraan yang mahal, tidak cukup dengan motor gede ( dengan biaya) sekelas Harley Davidson.

Tapi bila perlu Marbusan meminta untuk dipanggilkan mobil pintar sekelas KITT (Film di RCTI era 90-an), yang bisa ngomong, dan super canggih.
Bila dirasa kurang, Marbusan akan meminta dikawal oleh penjaga sekelas Will Smith yang di film Men In Black bisa mengalahkan alien, plus minta bantuan Harry Potter untuk menjaga Marbusan dari niat jahat penyihir atau hantu.
Maklum , tamu se (yang dianggap) VVIP seperti Marbusan mungkin saja tidak hanya diincar oleh manusia, tapi juga oleh alien atau hantu.

Saudara , namun tiba-tiba HP Marbusan berdering yang ternyata berasal dari Ustadz Marzuki (Semoga Allah selalu memberikan barokah kepada beliau), guru ngaji Marbusan semenjak kecil di pulau garam di negara “Markir Mikir” itu.

Ustadz Marzuki mengucapkan selamat kepada mantan santrinya yang notabene paling malas ngaji itu karena sudah dikawal oleh motor gede (dengan biaya) yang dibeli dengan harga 600 juta, cukup beli kedelai satu gudang supaya rakyat miskin tetap bisa makan tahu dan tempe.

Motor yang biaya servisnya sebulan lebih dari 3 juta, cukup untuk memberi makan sederhana kepada 3 keluarga (bisa jadi 6 nyawa) bila diukur dengan UMR yang 805.500 perak sebulan.
Bila Marbusan mau tidak dikawal Mobil KITT yang kalo ditukar dengan kendaraan sedan biasa saja dapat 20 buah bahkan lebih, dan kategori (yang dianggap) penting lainnya, berapa besar artinya bagi masyarakat bila dipandang dari kerendah-hatian pemimpin seperti Marbusan.

Selanjutnya Ustadz Marzuki bertanya kepada Marbusan , kenapa untuk mengawal Marbusan yang belum tentu datang sebulan sekali dan paling lama mungkin hanya tinggal selama  tiga hari, harus habiskan uang yang bisa digunakan untuk meningkatkan taraf hidup atau profesionalisme pengawal Marbusan dalam negeri supaya besok tidak usah menyewa Will Smith untuk menjadi pengawal tapi cukup Wiro Sableng dan  Harry Potter diganti Mak Lampir yang gajinya lebih murah tapi tidak kalah sakti.

Mata Marbusan merah menahan tangis ketika ustadz Marzuki bercerita bahwa super pemimpin seperti Rasul saja rela berlapar ria demi melihat rakyat Beliau sejahtera dari baitul maal yang ada .

Saudara, dalam konsep pengawalan memang keamanan adalah salah satu factor terpenting, namun yang perlu diperhatikan adalah penggunaan sumber daya yang berlebihan bukan hanya tidak efisien namun juga melukai perasaan dari masyarakat yang nota bene adalah penguasa dalam system demokrasi namun menjadi penonton dalam alam nyata.

Pengawalan yang berlebihan ,disatu sisi memang bisa menjamin keselamatan tamu (dianggap) VVIP tersebut, namun disisi lain menjauhkan dari masyarakat .Betapa rakyat merindukan sosok pemimpin seperti Baginda Rasul yang menjadikan rakyatnya sebagai “pengawal” ( ingat bahwa rakyat yang mencintai pemimpin, akan melindungi pemimpinnya ).

Saya juga tidak tahu mengenai “akal sehat” mana yang mendasari pembelian motor gede (dengan biaya gede) tersebut meskipun sudah ada motor gede  lainnya. Bila memang didasarkan kemampuannya untuk melakukan hal “entertaining” untuk menghibur pengurus SIM misalnya, mengapa tidak membelikan alat terpisah saja, niscaya harganya akan jauh lebih murah.

Lagipula menurut kelirumologi, hiburan terbesar pada saat mengurus SIM atau yang lain adalah waktu pengurusan yang cepat dan tidak bertele-tele seperti sekarang.

Percayalah, meskipun ada sarana hiburan semacam karaoke atau musik, tidak akan banyak menghibur pengurus SIM bila harus menunggu lama dan meninggalkan tugas di kantor, apalagi bila mereka tahu bahwa Motor Gede (biaya) yang dibeli dari uang pajak mereka yang digunakan untuk menampilkan hiburan “ala orkes kampung” tersebut. Bagaimana menurut anda ? Salam kelirumologi dari saya ,Marbusan !

< Sebelum   Berikut >