| Psycho-Kelirumologi |
|---|
| Psycho-Industri |
|---|
| Psycho-Refleksi |
|---|
| Psycho-Remaja |
|---|
| Psycho-Sosial |
|---|
1.Milis Berbagi.NET (Statistik/Psikologi) 2. Milis Parameter Alumni-Stat ITS ------------- Penjelasan |
| Paradox |
| Ditulis Oleh: Marbusan | |
| Saturday, 30 June 2007 | |
|
Salam kelirumologi dari saya . Marbusan ! Kali saya akan mengajak anda bermain-main dengan logika dan pengalaman anda. Kali ini saya akan mengajak anda bermain dalam dunia paradox atau dalam Bahasa Indonesia yang baru disebut sebagai Sulawan. Semoga bisa bermanfaat dan menimbulkan inspirasi. Saudara, saya akan menceritakan suatu kisah kelirumologis dan akan kita bahas secara singkat di akhir bahasan. Alkisah, ada beberapa orang datang kepada seorang bijak dan bercerita betapa mereka sekarang sedang dalam kondisi tertekan, stress akan pekerjaan mereka. Setelah mendengarkan cerita mereka, orang bijak tersebut menawarkan kopi yang masing –masing terdapat pada cawan yang terbuat dari berlian, emas, perak, intan dan sebuah cangkir terbuat dari batok kelapa. Usai menikmati kopi yang ada, orang bijak tadi berkata “Hidup adalah sebuah Paradox, dimana disatu sisi anda menginginkan yang terbaik dari anda, tapi disisi yang lain anda juga punya keterbatasan. Bagaimana anda bisa berbahagia bila anda selalu menginginkan yang terbaik tapi mengingkari sisi lemah anda ? Anda terlalu sibuk memilih wadah yang anda inginkan dan tidak mau kalah dengan orang lain, sehingga anda terlupa untuk menikmati kopi anda ?“ Saudara, sekarang kita perhatikan kehidupan kita secara realita . Bila hidup adalah kopi , gelas adalah wadahnya .Sekarang pilihan anda adalah apakah kita mau menikmati “kopi” kita atau meributkan “wadah”nya. Dan semuanya berpulang kepada keputusan kita untuk memilih seperti apa wadah yang kita sukai, apakah wadah yang bertatahkan intan, berlian atau wadah indah lainnya, tapi tolong diingat bahwa hidup selalu menghadirkan paradox bahwa apapun pilihan kita, selalu ada konsekuensinya. Dalam ilmu Psikologi, saya sering menyebutnya sebagai suatu bentukan konflik. Bagaimana cara menghadapinya ? saya menganjurkan bahwa dalam menerapkan suatu target maupun pola bekerja selalu melakukan pendekatan pada rasionalitas. Seringkali stress itu muncul dari suatu ketidakmampuan kita melakukan pemenuhan terhadap need kita, yang seringkali pula diluar jangkauan kemampuan kita. Jadi, apakah anda setuju dengan saya? Salam kelirumologi! |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|
|
|