Tuesday, 06 January 2009
Persamaan Tempat Ibadah dan Layanan Selular
Ditulis Oleh: Marbusan   
Tuesday, 04 November 2008

ImageSalam Kelirumologi dari saya,Marbusan.Saudara, seringkali kita jumpai di tempat ibadah  banyak "rambu-rambu" larangan bagi anak-anak, dari sekadar melarang bergurau, melarang berlari-lari sampai pada larangan ekstrem untuk anak dibawah 5 tahun untuk masuk ke tempat ibadah semata-mata untuk tidak "mengganggu ibadah" orang lain yang kelirumologinya adalah orang tua yang punya "banyak pengalaman" beribadah secara khusyuk.

Kelirumologinya seringkali kalimat "khusyuk" diartikan sebagai kesempatan beribadah laksana pertapa di pegunungan yang bebas dari gangguan apapun termasuk dari anak kecil.
Adalah Kelirumologi  pula bila rumah ibadah seringkali dianggap sinis sebagai "tempat berkumpulnya para orang tua".Kaum remaja dan anak-anak seakan menganggap rumah ibadah adalah tempat yag sama sekali tidak menyenangkan .Bagaimana menurut anda ?

Saudara, sangat logis untuk mendefinisikan ibadah sebagai hubungan terintim dengan Tuhan dalam mencari ridonya, sehingga orang-orang berlomba -lomba untu beribadah "secara khusyuk".Pertanyaam kelirumologi saya yang pertama adalah apakah arti kekhusukan itu?

Saudara, pada saat Nabi Muhammad beribadah beliau seringkali memperpanjang waktu bersujudnya karena kedua cucu beliau suka sekali memanjat punggung beliau .Nyatanya beliau tidak pernah marah karena beliau tahu begitulah sifat alami anak-anak yang suka bermain.Beliau justru tidak perah melarang cucunya untuk berada di dekat beliau pada saat beribadah karena beliau pun tahu nilah waktunya untuk memperkenalkan arti ibadah secara dini kepada anak kecil secara menyenangkan.Di kisah lain sahabat Nabi justru mengajak putri kecilnya untuk menemani beribadah meskipun kemuadian si putri kecil bermain dengan memukul-mukul mainan musiknya . Sekali lagi, inilah perkenalan dengan ibadah secara menyenangkan. Beribadah secara menyenangkan? Wow , sungguh susah masuk akal menurut Marbusan, karena kita selalu mengartikan bahwa ibadah adalah ibarat bertapa yang harus mutlak tenang dan bebas gangguan.
ImageSeringkali kita marah bila dalam beribadah kita merasa terusik dengan kehadiran orang lain. Saudara,bila memang benar definisi ibadah khusyuk adalah bebas dari gangguan, pasti Tuhan akan menurunkan agamaNya di kutub utara yang jauh dari peradaban .Kenyataannya , Tuhan justru menurunkan agamaNya di tempat yang notabene sangat maju peradabannya.Bila khusyuk berarti harus sepi, bukankah seharusnya tempat ibadah dibangun diatas gunung , di dasar laut, di tengah hutan yang sepi orang ? Mengapa secara kelirumologi orang tdak menyadari bahwa kekhusyukan adalah tetap bisa tenang beribadah meskipun di tengah keramaian? Bukannya nilai ideal suatu kekhusyukan adalah beribadah dengan bisa mengelola serta mengalahkan godaan yang ada? Alangkah indahnya bila tak ada lagi yang marah kepada penjual makanan yang buka di siang hari pada saat bulan Ramadhan. Alangkah indahnya bila kita tetap bisa sholat dengan khusyuk di tengah keramaian karena kita tahu bahwa kita hidup di tengah masyarakat ramai .Kesadaran bahwa keramaian tersebut adalah godaan yang harus kita kalahkan ( bukan kita singkirkan ) demi mencapai nilai tertinggi beribadah ?

Saudara, bagaimana dengan anak kecil yang masuk ke tempat ibadah? Adakah mereka tak lebih dari "teroris" kecil dari "kekhusyukan" para orang tua ? Lalu secara kelirumologis ,dimanakah hak mereka untuk mengenal ibadah dengan pemahaman mereka sebagai anak-anak dengan dunia bermain mereka? Wahai para orang tua, tak layakkah anak-anak mengenal agama mereka dengan cara yang menyenangkan ?
Marbusan dapat menduga bahwa alasan yang dikemukakan adalah tempat ibadah bukanlah tempat bermain   . Saudara, secara kelirumologi Marbusan mengatakan bahwa seringkali secara tidak sadar kita menuntuk peran yang sama dalam pengertian yang sama akan ibadah terhadap anak-anak.Apakah kita lupa bahwa agama tidak mewajibkan seseorang sampai dengan menginjak dewasa untuk menjalankan ibadah ? setahu Marbusan adalah anak-anak diharapkan belajar mengenai ibadah.Tak lebih dari itu.

Marbusan membayangkan, alangkah indahnya bila anak-anak diijinkan ke tempat ibadah dan mengikuti ibadah sesuai kemampuan mereka.Anak-anak tentunya tak bisa lepas dari "tak bisa diam",bergurau dengan teman-temannya, atau bahkan berlarian kesana kemari, tapi bukankah untuk menjadikan anak dekat dengan tempat ibadah adalah menjadikannya tempat belajar yang menyenangkan ? Adalah tugas dari orang tua untuk secara perlahan-lahan menanamkan arti dari beribadah dengan menghormati orang lain.

But it takes time! Adalah mimpi untuk menanamkan sesuatu nilai dengan sim salabim dan terwujud pada saat itu juga. Seringkali secara kelirumologi para orang tua hanya menuntut pelaksanaan ibadah sebagaimana yang dilakukan "kebanyakan orang" tanpa bimbingan komprehensif dan sadar bahwa hal itu butuh waktu. Bukankah itu adalah esensial dari suatu sistem pendidikan ?

Seorang kyai "mbeling" pernah mengatakan lebih baik anak-anak bermain di tempat ibadah daripada main di jalan dengan resiko tertabrak mobil. Alangkah indahnya bila orang tua mampu menjadikan tempat ibadah sebagai tempat yang menyenangkan bagi anak-anak.Bila para orang tua takut tidak khusyuk, Marbusan berpedapat agar mereka beribadah di tengah hutan saja yang sepi orang.

Bukti lain, bila ibadah khusyuk menuntut tanpa gangguan sama sekali, pasti Tuhan hanya akan memerintahkan umatnya, shalat tengah malam saja padahal kenyataannya pada saat siangpun Tuhan mewajibkan sholat bukan? Apakah kalau kita shalat orang lain semua harus berhenti bekerja ? tentu tidak bukan?  Sekali lagi, bukankah khusyuk adalah mampu menghadapi godaan ?

Saudara,jangan lupa bahwa pembiasaan dan pendidikan membutuhkan suatu media yang menyenangkan dan tidak memberatkan.Adalah tugas kita sebagai orang tua untuk melaksanakan hal itu. Bukannya dengan membuat sesuatu hal menjadi sesuatu yang kaku, menakutkan, membosankan dan banyak peraturan .Apakah kita akan memberlakukan tempat ibadah seperti layanan telephone selular dimana selalu ada "syarat dan ketentuan berlaku? " bagi seseorang yang ingin belajar mencintai agamanya ? Bagaimana kita mengharap anak-anak kita kelak akan mencintai tempat ibadah bila mereka tidak diberi kesempatan untuk mengenalnya sebagai sesuatu yang menyenangkan? Bagaimana menurut anda ? Salam kelirumologi dari saya, Marbusan.

Berikut >