| Psycho-Kelirumologi |
|---|
| Psycho-Industri |
|---|
| Psycho-Refleksi |
|---|
| Psycho-Remaja |
|---|
| Psycho-Sosial |
|---|
1.Milis Berbagi.NET (Statistik/Psikologi) 2. Milis Parameter Alumni-Stat ITS ------------- Penjelasan |
| Sistem Kepercayaan |
| Friday, 20 June 2008 | |
|
Salam kelirumologi dari saya ,Marbusan. Tahukah anda beda antara mengerti dan percaya ? Setidaknya dua tokoh filososofi mengamini bahwa sesungguhnya ada perbedaan diantara keduanya. Lalu apa jadinya bila orang yang mengerti tapi tidak percaya ? Lalu apakah kepercayaan yang sudah mengkristal menjadi keyakinan harus diterima orang lain yang mengerti tapi tidak percaya ? Saudara, Descartes memandang bahwa penerimaan dan penolakan sebuah ide adalah dua hal yang niscaya terjadi dari suatu usaha sungguh-sungguh dan menyeluruh dari proses pencernaan suatu ide ,sedangkan dilain pihak Spinoza mengatakan bahwa (a) Penerimaan suatu ide adalah bagian dari pemahaman ide tersebut dan (b) Penolakan sebuah ide sesungguhnya melibatkan usaha dan pengertian yang lebih dari sekedar penerimaan. Di sisi lain, terdapat suatu pendapat bahwa representasi mental terhadap gagasan yang bersifat abstrak hampir sama dengan representasi mental terhadap gagasan yang disertai bukti secara fisik. Dalam hal ini hukum kepercayaan menjadi dua hal (a) Orang percaya terhadap gagasan yang mereka kuasai dan (b) Orang percaya terhadap gagasan yang dapat mereka lihat (atau buktikan) Sekilas memang tidak ada yang salah dengan hukum kepercayaan tersebut, hanya kemudian ada beberapa orang yang kemudian menemukan sebuah kelirumologi agar apa yang diyakininya dapat juga diyakini orang lain .Berikut penjelasan kelirumologi tentang kepercayaan tersebut .
Betapa banyak orang mengatakan satu hal lebih baik dari hal yang lain karena menurut nilai ideal atau hati nurani mereka mengatakan demikian dan sayangnya bahwa nilai ideal itu menjadi tidak lagi ideal karena memaksakannya kepada orang lain. Mereka lupa bahwa conscience sama seperti super ego lebih bersifat nurture (hasil didikan) dari keluarga dan masyarakat yang kemudian dimatangkan oleh pengalaman . Orang yang dibesarkan dalam keluarga mampu , mungkin nilai ideal mereka adalah membantu dengan materi kepada orang lain, namun nilai ideal yang sama tidak akan kita jumpai pada keluarga pengemis atau gelandangan, misalnya. Mungkin, nilai ideal mereka adalah tidak membiarkan anak bayinya kelaparan, bahkan tidak mustahil nilai ideal ini akan mengalahkan nilai ideal lain secara general, misalnya membeli susu dengan hasil mencuri . II. BUKTI ,KEKUASAAN ,dan DAYA MEMORI Di atas sudah dijelaskan bahwa orang hanya percaya terhadap apa yang mereka kuasai dan yang bisa dibuktikan. Pada saat seseorang dengan keterbatasan kekuasaan tidak bisa menghadirkan bukti, maka sulit baginya untuk meraih kepercayaan dari orang lain. Begitu besarnya peran kekuasaan dalam sistim kepercayaan, sehingga Max Weber dalam bukunya yang berjudul Essay in Sociology pada tahun 1948 menyebutkan: “….kekuasaan adalah kesempatan seseorang atau sekelompok orang untuk menyadarkan masyarakat akan kemauannya sendiri dengan sekaligus menerapkan tindakan perlawanan terhadap orang-orang atau kelompok tertentu” Kelirumologi yang ada seringkali penguasa memberikan perintah atas dasar kekuasaannya tanpa adanya bukti tertulis sehingga pada saat terjadinya kesalahan atau setelah waktu berjalan sehingga ia lupa akan perintahnya tersebut, maka si pemimpin tersebut akan sangat sulit untuk dimintai pertanggungjawabannya. Apakah anda juga melakukannya ? III. MENGERTI vs PERCAYA Dalam teori kepribadian , dijelaskan bahwa manusia itu :(1).Selalu sama dengan orang lain,(2). Sebagian sama dengan orang lain ,(3).Unik, sama sekali tidak sama dengan orang lain sehingga kembali nilai kepercayaan seseorang akan berbeda dengan orang lain. Singkatnya, penulis menekankan bahwa percaya adalah suatu sistem yang dibenarkan oleh individu , dan memiliki nilai positif serta mungkin dilaksanakan oleh individu yang bersangkutan, dibandingkan dimensi “mengerti” yang hanya melibatkan pengamatan terhadap suatu system yang bisa menghadirkan ataupun tidak keterlibatan penilaian benar atau salah dan individu yang bersangkutan menilai bahwa suatu gagasan tersebut tidak dapat dilakukan olehnya . Saudara, jelaslah sudah bahwa konsep kepercayaan berkenaan dengan nilai ideal atau hati nurani seseorang dimana nilai ideal tersebut seringkali didapatkan secara nurture yang merupakan kerangka berpikir utama dan dimatangkan oleh pengalaman. Memaksakan suatu nilai ideal lain dalam system kepercayaan orang lain akan menimbulkan potensi terjadinya konflik antar keyakinan. Jadi, setujukah anda dengan saya ? Salam kelirumologi dari saya , Marbusan. |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|
|
|