Tuesday, 06 January 2009
TK (TAMAN KANAK-KANAK ) vs TK (TAMAN KEKERASAN)
Wednesday, 14 November 2007

Salam kelirumologi dari saya, Marbusan ! saudara , pernah suatu hari teman saya bercerita mengenai anaknya yang duduk di bangku TK mengeluhkan tentang betapa beratnya materi pelajaran TK sekarang .Sepintas memang saya melihat bahwa bobot pelajaran TK sekarang jauh berbeda dibanding bobot pelajaran 10 tahun yang lalu . Apa akibatnya ? Silahkan menyimak artikel berikut ini.


Saudara , usia masuk TK kurang lebih 4-5 tahun yang notabene merupakan golden age pertumbuhan akal dan budi seorang anak . Tak kurang dari seorang Sigmund Freud mengatakan bahwa kepribadian orang dewasa dibentuk dari 5 tahun pertama kehidupannya . Oleh karena itu , segala perlakuan , pendidikan , dan pengasuhan haruslah berupa segala hal yang menunjang tumbuh kembangnya .Dalam pertumbuhannya yang mecapai masa emas tersebut , sebetulnya pusat dari perhatiannya adalah eksplorasi kemampuan motorik (terutama motorik kasar ), lingkungan sekitar, dan tentu saja segala hal seputar rumah dan orang tuanya .Peran orang tua sangatlah besar karena daya imajinasi dan keinginan untuk diakui ( ingat masa temper tantrum pertama berlangsung pada usia 3-4 tahun ) muncul dalam fase ini . Keterlibatan orang tua dalam permainan dan kegiatan sehari-harinya akan menimbulkan kepercayaan diri sang anak . Saya sengaja menebalkan kalimat permainan karena saya khawatir banyak orang tua yang beralasan tuntutan jaman menghendaki anak yang “ super” sehingga mereka menjejali anaknya dengan berbagi macam les , pelajaran , dan lain-lain sehingga fase bermain anak menjadi hilang sehingga muncullah Juvenile Stress atau stress pada usia anak-anak.

Saudara , saya secara kelirumologi berpendapat bahwa dunia pendidikan sekarang sudah “terkomersialisasikan “ dan “dibutakan “oleh ambisi orang tua tentang multi skills yang harus dimiliki putra-putrinya tanpa peduli tahapan perkembangan mereka . Saudara , setahu saya yang kelirumologis  peran TK adalah untuk sebagai sarana social anak-anak untuk bermain dan mengenal lingkungannya termasuk pergaulan dengan teman-teman sebaya dengan media permainan. Kalaupun ada materi pelajarannya, maka materi itu diberikan sekedar untuk melatih daya abstraksi dan kemampuan motorik halus anak-anak , misalnya kegiatan menggambar atau mewarnai dan juga mengenal nama benda. Sangat disayangkan kalu fungsi TK sekarang beralih seperti kelas 1 atau kelas 2 SD yang sudah dituntut bisa membaca , berhitung matematika dan PR yang menggunung. Apabila kita melihat fungsi TK dan fase pertumbuhan anak-anak, jelas bisa dikatakan hal ini adalah “kekerasan psikologis” disamping juga berpeluang membuat fase “jenuh belajar” lebih cepat datangnya . Saya khawatir bahwa dengan semakin berkurangnya kesempatan anak-anak melakukan hubungan social , maka semakin rendah kepekaan social mereka , atau dengan kata lain semakin individualistis .

Akhir dari artikel ini akan saya tutup dengan pesan bahwa peran orang tua sangatlah penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak .Anak-anak adalah milik kita dan milik mereka sendiri , yang tidak seharusnya dinodai dengan ambisi orang tuanya. Sebagaimana apa yang dikatakan oleh Kahlil Gibran  bahwa : “Anak-anak berasal dari kamu tapi bukanlah milik kamu .Mereka adalah anak-anak masa depan yang bahkan kamu tak pernah membayangkannya “

Jadi , bagaimana dengan pendapat anda ? Apakah anda setuju dengan saya ? Salam kelirumologi dari saya , Marbusan !

 

< Sebelum   Berikut >