|
Salam psikologi klinis dari saya , Marbusan! Saudara , pernahkah anda mendapatkan “panggilan sayang “ dari keluarga , teman seperti julukan si gembil , anak nakal atau yang lain ? Bagaimana perasaan anda ? Sakit, pasti. Merasa terlecehkan ?
Sekarang pertanyaannya , kalau anda merasa sakit diperlakukan demikian
mengapa masih banyak orang melakukan hal yang sama kepada orang lain?
Apakah anda merasa bahwa rasa sakit yang anda alami harus dialami pula
oleh orang lain ? Lalu kapan mata rantai pelecehan emosional ini akan
berakhir ? Berikut ini tulisan mengenai pelecehan emosional , semoga
bisa membuat kita bercermin diri.
Saudara , Dalam aspek kehidupan kita ini , IQ memang masih dianggap sebagai peranti utama penjamin kesuksesan seseorang . Tak heran, bila orang yang kurang berprestasi di dunia akademis mendapatkan tekanan yang luar biasa dari rekan-rekannya . Bahkan selanjutnya pada perjalanan perkembangan dunia kerja yang menuntut efisiensi dan profesionalisme, kini hampir semua orang mulai memahami bahwa IQ saja tidak cukup untuk melakukan sebuah pekerjaan, sebagai penyimbang yang menyelaraskan maka mulailah di terapkan pendekatan EQ dalam kegiatan setiap hari.
Berbagai sumber pustaka, training dan pelatihan tentang EQ makin gencar diterapkan di berbagai perusahaan di hampir seluruh bagian dunia. Hasil yang menganggumkan atas kombinasi penerapan IQ dan EQ makin menyemangati setiap individu untuk menjadikannya pola hidup modern.
Emosi yang stabil dapat memacu kreativitas dan produktivitas, ini adalah inti dari penerapan pendekatan EQ, namun seiring itu pula, perlu banyak orang menyadari bahwa masih saja ada praktek-praktek emotional abuses yang kerap terjadi dan membuat banyak orang menderita secara psikis maupun fisik karenanya.
Hal-hal yang dianggap "lumrah" dan "biasa" namun efeknya dapat terus berlangsung seumur hidup.
Dunia sekolah, dunia training, dunia kerja, lingkungan social tempat tinggal bahkan di tengah keluarga sekalipun, setiap hari terjadi praktek-praktek Emotional Abuse. Sebagian orang mengabaikannya, sebagian lagi menikmati melakukannya dan sebagian lagi menderita karenanya tanpa harus tahu bagaimana mengatasi dan mengobatinya.
Seorang manager dapat membuat tekanan emotional yang luar biasa dan menyebabkan karyawannya mengundurkan diri secara terpaksa dan bahkan melakukan bunuh diri, "mencuri" fasilitas kantor, mensabotase client/ laporan kerja orang lain, menjelekkan seseorang di muka umum, seorang ayah yang membedakan kelebihan anak yang satu dengan yang lain menyebabkan tumbuhnya kebencian menahun dalam diri anak dan kemudian membentuknya menjadi anti-social, seorang guru yang secara emosional dilecehkan muridnya harus mengalami perawatan psikis bertahun-tahun atas trauma yang dideritanya.
Seorang trainer kehilangan kesabarannya dan konsentrasinya atas ulah atau ejekan audience ditengah penyampaian materi dan berakhir dalam sebuah perkelahian. Adalah contoh-contoh sederhana atas emotional abuses yang terjadi. Ejekan "sederhana", praktek per "plonco" an di sekolah dan atas karyawan baru, pembentukan kelompok "eksklusif", pembedaan perhatian atau name calling (si gendut, si tukang ngibul, si jorok, si kacamata, si tukang gossip, si resek, si pengecut, dll), peserta training anda tidak merespon pada aktivitas training tanpa anda tahu penyebabnya.
Semua berawal dari hal yang biasa, namun efeknya dapat sangat mengerikan dan bahkan bisa tak tersembuhkan jika tak segera diatasi.
Tekanan yang terjadi terus menerus atas kestabilan emosi dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental anda. Sakit kepala berkepanjangan, takut tak beralasan pada seseorang, serangan jantung, sakit perut kronik,kehilangan semangat hidup dan motivasi mengembangkan diri dan lain-lain yang pada akhirnya menghambat efektivitas dan produktivitas seseorang.
Bagaimana , apakah anda setuju dengan saya ?
|