Tuesday, 06 January 2009
Perubahan Jaman
Ditulis Oleh: marbusan   
Wednesday, 22 August 2007
Salam psikologi sosial dari saya , Marbusan ! Beberapa waktu yang lalu saya berbincang dengan seorang teman tentang kekhawatirannya tentang nasib Bahasa Daerah (dalam hal ini adalah Bahasa Jawa) yang semakin tidak dikenal oleh kaum muda. teman tersebut menyayangkan sekaligus mempertanyakan penyebab hal tersebut . Semoga tulisan berikut ini dapat menjadi renungan bersama

Saudara, setidaknya saya melihat ada beberapa faktor mengapa adat istiadat mulai ditinggalkan, yaitu :

I. FAKTOR PIMPINAN
Saudara , pertanyaan pertama yang saya sampaikan adalah “ Apakah kebudayaan akan tetap lestari tanpa adanya perubahan ? “ Untuk bisa menjawabnya , saya akan kembali mengajukan test case untuk anda . Katakanlah anda adalah Raja atau pimpinan adat di wilayah anda yang menerapkan hukuman cambuk 50 kali bagi pelaku pencurian . Suatu ketika bukti menyatakan bahwa putra anda satu-satunya , sang putra mahkota anda melanggar peraturan tersebut , apa yang akan anda lakukan ? Bila anda memilih tetap melakukan hukuman cambuk 50 kali tanpa terkecuali , maka anda telah melakukan pelestarian budaya . Namun , bila anda memilih merubah peraturan adat dengan mengurangi hukumannya misalnya mengganti hukuman cambuk dengan hukuman penjara , maka inilah salah satu contoh yang membuat adat berubah setiap waktu . Jadi kesimpulannya , adat bisa berubah dikarenakan keputusan dari pimpinannya.

II. FAKTOR EKONOMI

 Saudara , tahukah anda berap banyak tahapan yang harus dilalui dalam adat pernikahan di tanah Jawa ? Bila seandainya semua tahapan tersebut dijalankan , berapa banyak jumlah Rupiah yang akan digunakan untuk itu ?  Atau katakanlah  berapa banyak jumlah uang yang harus disediakan untuk melakukan kegiatan upacara Ngaben di Bali  atau pesta kematian di Tanah Toraja ? bagi beberapa orang yang mampu tentu bukan masalah besar untuk melakukannya , tentu hal tersebut juga melambangkan status social orang tersebut . Namun bagi beberapa kalangan tertentu pasti akan sangat kesulitan sehingga mereka memilih beberapa alternative , yaitu : 1) Pindah ke tempat lain sdan melaksanakan adat yang baru yang sesuai dengan keadaan ekonominya  .2) Tetap bertempat tinggal di tempat semula, kemudian membuat kelompok senasib dan kemudian melakukan melaksanakan keseluruhan rangkaian upacara adat dengan berpatungan , atau 3) Melaksanakan upacara adat yang telah disesuaikan dengan keadaan ekonominya .

 III . DIFERENSIASI ANTAR KELOMPOK SOSIAL
 
Saudara , diakui atau tidak salah satu factor penunjang mengapa adat istiadat ditinggalkan adalah adanya diferensiasi antar kelompok social. Contoh mudahnya seperti ini , Untuk bahasa Jawa saja kita mengenal 3 kelompok Bahasa , yaitu Ngoko , Krama Madya , dan Krama Inggil dimana menguasai tiga kelompok bahasa tersebut adalah sama sulitnya dengan belajar 3 bahasa asing yang berbeda secara bersamaan . Diakui atau tidak , pada prsoses afiliasi budaya dimana banyak kebudayaan berkumpul , sekat-sekat antar kelompok social akan semakin tidak diminati . Coba anda bandingkan dengan bahasa Indonesia yang tidak mengenal diferensiasi kelompok social , yang pengucapannya dimanapun seragam sehingga sangat mudah dipelajari , lebih bebas social prejudice  , dan lebih luas penggunaannya dimanapun orang tersebut berada .

Saudara, tentunya masih banyak sekali factor-faktor lain yang tidak penulis sebutkan satu-persatu .  Semoga tulisan ini tidak menjadikan semangat untuk melestarikan kebudayaan di Indonesia menjadu luntur , namun lebih digunakan sebagai kajian tantangan demi tercapainya solusi bersama. Salam Psikologi Sosial dari saya, marbusan!

< Sebelum   Berikut >