| Beratnya Beban Kesehatan |
| Ditulis Oleh: Ede Surya Darmawan | |
| Tuesday, 18 March 2008 | |
|
PERINGATAN Hari Kesehatan Nasional (Harkesnas), 12 November, berlalu begitu saja tanpa kesan. Harkesnas mestinya dijadikan momentum untuk melakukan evaluasi dan introspeksi sekaligus advokasi tentang pentingnya pembangunan kesehatan untuk mendukung pembangunan nasional (bangsa) Indonesia. Lolosnya momentum Harkesnas dari perhatian, tidak lepas dari masih salah mengertinya bangsa kita terhadap kesehatan. Masyarakat kita menganggap pentingnya kesehatan pada saat kondisi sehat atau sakit (sickness oriented). Sikap berlebihan atau gagap ditunjukkan ketika ada anggota keluarga kita yang sakit, dan apapun dilakukan, termasuk membayar mahal, agar keluarga yang "kehilangan kesehatannya" segera sembuh. Dalam kondisi seperti itulah, sepertinya kita sepakat bahwa kesehatan sangat penting dan menjadi prioritas utama untuk diperhatikan. Pada tataran makro, dari tingkat kabupaten/kota hingga ke negara di republik kita tercinta ini, kejadian yang identik juga terjadi. Betapa sibuknya para aparat hingga pejabat teras saat ada kejadian luar biasa seperti polio, demam berdarah, dan diare. Berbagai upaya, dan tentu saja biaya, dikerahkan untuk segera mengembalikan "kesehatan bangsa" ini, walaupun sifatnya seperti pemadam kebakaran, yaitu memadamkan api yang menyala. Kembali, dalam situasi ini kita pun sepakat bahwa kesehatan sangatlah penting dan selayaknya mendapat prioritas untuk diperhatikan. Pertanyaannya sekarang, apakah seperti ini cara kerja bangsa ini dalam membangun manusianya. Di manakah gerangan konsep pembangunan berwawasan kesehatan yang mestinya menjadikan kesehatan bangsa sebagai tujuan pembangunan nasional dan bagian dari pembangunan kesejahteraan umum? Beban Berat Pemahaman yang tidak tepat terhadap kesehatan, baik dalam tingkatan mikro (individu-rumah tangga) maupun tingkatan makro (daerah hingga nasional), telah menjadi satu faktor yang memberatkan dalam pembangunan kesehatan di negeri ini. Akibatnya, kita selalu terlambat membuat program yang terencana dan sistematis. Kita selalu menjadi reaktif akibat terus-menerus menghadapi "kejadian luar biasa" pada penyakit-penyakit yang di negara berkembang lain sudah dianggap tidak ada. Itu terjadi karena mereka mampu mengelola program lebih baik dari kita. Sebagai ikutan, perhatian bangsa ini terhadap kesehatan secara utuh terlalu kecil, dan lebih terbiasa memperhatikan kesehatan yang hilang atau kondisi sakit, dan abai terhadap upaya meraih kesehatan yang lebih baik. Hal in dapat dilihat dari besaran anggaran yang disediakan oleh pemerintah maupun masyarakat yang tidak beranjak dari sekitar 2,5 persen sejak zaman Orde Baru. Pada tingkat individu - rumah tangga, belanja kesehatan kita pun masih rendah dan hampir 90 persen untuk kegiatan pengobatan. Kondisi itu lebih memprihatinkan lagi karena anggaran kesehatan itu masih dialokasikan lebih banyak untuk program dan kegiatan yang bersifat pengobatan dibandingkan dengan upaya pencegahan dan peningkatan (promosi) kesehatan. Ini berarti, pada tataran pemerintah dan masyarakat melakukan hal sama. Padahal kalau dana pemerintah dialokasikan lebih banyak untuk pencegahan dan promosi, bukan berarti pengobatan tidak diperhatikan, karena masyarakat secara inheren akan berusaha mengobati anggota keluarganya yang sakit. Bahkan, bila pengalihan dana ini terjadi maka dana masyarakat untuk pengobatan pun akan berkurang karena akan semakin banyak anggota masyarakat yang tercegah untuk sakit dan derajat kesehatannya meningkat. Selanjutnya, beban berat pada sektor kesehatan adalah apa yang disebut triple burden of diseases. Penulis lebih memilih beban berlipat tiga daripada beban ganda karena memang kenyataan bahwa kita menghadapi beban dari tiga jenis penyakit yang berbeda pada saat yang sama. Jenis penyakit pertama adalah penyakit konvensional, seperti infeksi pencernaan dan pernafasan yang terus-menerus ada dan menjangkiti masyarakat kita. Termasuk dalam kelompok penyakit ini adalah penyakit diare, infeksi saluran pernafasan akut, tetanus, demam berdarah, dan lain-lain. Keadaan ini tidak terlepas dari berbagai prakondisi yang mempengaruhi kesehatan, seperti buruknya saluran air bersih, perumahan yang padat, penanganan sampah yang kurang baik, polusi udara serta air, rendah pengetahuan umum masyarakat. Jenis penyakit kedua adalah penyakit yang baru muncul (emerging diseases) seperti HIV/AIDS dan flu burung. Kedua penyakit baru ini, walaupun kasusnya belum banyak, tetapi karena telah dianggap sebagai bagian dari global pandemi karena keganasannya, mau tidak mau menjadikan perhatian bangsa ini pun tersedot ke arahnya. Jenis penyakit ketiga adalah penyakit yang telah lama hilang/berkurang kemudian muncul lagi. Jenis penyakit ini di Indonesia antara lain adalah tuberculosis (TB) paru, malaria, dan yang terakhir adalah gizi buruk dengan manifestasi marasmus dan kwasiorkor. Ketiga penyakit ini adalah penyakit-penyakit yang telah masuk ke dalam kelompok sejarah penyakit di Indonesia yang terjadi pada tahun 60an dan awal-awal masa pembangunan kemudian menghilang atau berkurang dan lalu meningkat lagi kejadiannya pada tahun-tahun terakhir ini. Harkat Bangsa Mungkin ada yang berpendapat bahwa apa yang terjadi terhadap kesehatan bangsa kita adalah hal yang wajar dan tidak perlu dipersoalkan karena tidak berdampak apa-apa terhadap bangsa ini. Ada juga yang berpendapat, prioritaskan dulu kesejahteraan ekonomi seperti negara-negara di Eropa pada abad ke-19 dan 20, dan kesehatan dengan sendirinya akan membaik. Kalau pendapat ini diikuti, beban kesehatan akan semakin berat karena tidak diperhatikan dan menimbulkan berbagai akibat. Pertama, rendahnya perhatian dan upaya serta biaya diinvestasikan kepada sektor kesehatan telah menjadikan kualitas sumber daya manusia bangsa ini menurun stagnan bahkan cenderung menurun drastis. Kita lihat saja dari tingkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari Human Development Report 2004 (UNDP, 2004) lalu, Indonesia menempati urutan ke-111 dari 177 negara dengan nilai indeks 0,692. Ranking ini menempatkan Indonesia pada kelompok negara-negara dengan IPM menengah pada bagian tengah bawah. Di kalangan negara-negara ASEAN, kita tertinggal dibanding Singapura (26), Brunei (33), Malaysia (56), Thailand (76), dan Filipina (83). IPM Indonesia sedikit lebih unggul dari Vietnam (112), negara yang baru membangun dengan nilai indeks 0,691. Dari segi kecenderungan peningkatan IPM, dalam sepuluh tahun terakhir menunjukkan tren yang sedikit meningkat, tahun 1995, 2000 dan 2002 indeks masing-masing 0,662 lalu 0,680, dan 0,692. Bandingkan dengan negara tetangga kepulauan, Filipina, yang stabil meningkat terus hingga pada tahun 2002 lalu telah mencapai 0,753. Begitu juga dengan Vietnam yang terus meningkat dari 0,649 (1995) menjadi 0,686 (2000) dan 0,691 (2002). Sangat boleh jadi IPM Indonesia pada tahun mendatang akan berada di bawah negara Vietnam. Akibat lain yang perlu diperhatikan adalah hubungan antara derajat kesehatan bangsa dengan produktivitas bangsa ini ditinjau dari sektor pendidikan dan sektor ekonomi. Mau tidak mau, hubungan ini harus diperhatikan dengan seksama, karena bangsa yang tidak sehat, apa lagi semenjak usia dini (bayi dan balita) akan membawa pengaruh pada prestasi akademik yang tidak optimal. Anak usia dini yang tidak sehat memiliki jumlah sel otak yang tidak optimal (Unicef, 1998) dan berpengaruh pada rendahnya kemampuan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat mereka bersekolah. Dengan demikian, akibat tidak memperhatikan sektor kesehatan akhirnya akan memubazirkan biaya pendidikan yang kita investasikan, akibat daya serap siswa yang rendah. Dengan rendahnya daya saing di bangku sekolah dan perkuliahan mengakibatkan rendahnya kualitas tenaga kerja bangsa kita secara umum. Inilah barangkali salah satu sebab dari potret muram dari dunia tenaga kerja kita yang sampai saat ini hanya mampu "mengekspor" tenaga kerja kasar dengan gaji rendah. Indonesia tampaknya belum mampu mengekspor tenaga kerja dengan kualitas ahli dan berketrampilan tinggi, seperti bangsa-bangsa lain mengekspor tenaganya ke negara kita yang umumnya menjadi tenaga ahli dan konsultan di negara kita. Jadi, momentum Hari Kesehatan Nasional tahun ini menjadi renungan bahwa kesehatan memiliki peranan penting dalam membangun bangsa Indonesia tercinta ini. Memang disadari bahwa kesehatan bukanlah segalanya dalam pembangunan suatu bangsa, tapi kenyataan yang terjadi menunjukkan bahwa kesehatan adalah salah satu faktor awal yang menentukan kualitas suatu bangsa. * Catatan : Penulis adalah staf pengajar pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI) Sumber Pertama Sumber Kedua |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|





