| Bisakah ASI tak pernah cukup ? |
| Ditulis Oleh: dayaolahwarta | |
| Thursday, 27 March 2008 | |
|
Menyusui anak sangat dipengaruhi oleh situasi emosi ibu dan lingkungan psikologisnya. Suksesnya pemberian ASI pada anak juga didukung oleh rendahnya stress, bagusnya nilai nutrisi, jumlah cairan yang dimiliki ibu, dukungan moral dan kemampuan si anak menghirup. Karena itu terkadang lingkungan tempat tinggal sangat tidak mendukung harapan keberhasilan menyusui dengan ASI ini, seperti : kehadiran anak lain dalam keluarga, kematian anggota keluarga yang sangat dicintai, kesulitan ekonomi, yang dapat dipastikan dapat membuat tingkat stres yang dialami ibu tak dapat stabil. Ada juga kejadian seperti operasi payudara yang dapat menghalangi keberhasilan pemberian ASI ini. Pemisahan ibu dan anak pun saat setelah melahirkan atau akibat operasi caesar pun pada beberapa kasus dapat meningkatkan angka kegagalan menyusui, seperti menurunnya kapasitas ASI yang dapat diasup si bayi. WHO telah menerbitkan suatu petunjuk sebagai salah satu referensi berapa lama harus menyusui, agar diperoleh sosok bayi yang sehat secara fisik dan mental. Dalam petunjuk itu diharapkan ibu dapat menyusui anaknya secara langsung dengan ASI sedikitnya selama enam bulan. Patut disayangkan adanya perasaan yang melingkupi beberapa ibu muda yang belum berpengalaman, telah buru-buru merasa tak mampu memproduksi ASI dalam jumlah cukup, dan akan memperbesar tingkat stres-nya jika dugaannya terbukti benar. Hal ini akan mempermudah munculnya ancaman psikologis seperti 'gunung es' yang dengan cepat sekali mengurangi kemampuan produksi ASI sesungguhnya dapat diasup si bayi. Sementara ini pencatatan kegagalan ibu menyusui bayi hingga mencapai enam bulan kelahirannya semakin hari semakin menunjukkan kenaikan yang mengkhawatirkan kualitas manusia pada kurun waktu berikutnya. Ada beberapa saran yang dapat diikuti oleh para ibu muda agar lebih rileks dan membuat sistem tubuhnya mampu memproduksi ASI dengan jumlah lebih banyak :
Adalah suatu hal yang wajar dalam situasi seperti saat ini untuk dapat memperoleh suasana santai dan memperoleh kesempatan beristirahat yang cukup. Melahirkan, merawat, menyusui dan membesarkan bayi tentu butuh energi yang cukup dan sangat bergantung pada kemampuan tubuh mengelola stres. Memang benar, suasana hati seseorang juga dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi dominasi penguasaan diri sangat ditentukan oleh pribadi bersangkutan. Karenanya seorang ibu haruslah membantu dirinya sendiri dan dibantu keluarganya agar dapat menenangkan dirinya dan mampu memproduksi ASI yang cukup. Hendakkah harus kehilangan pengalaman berharga merawat bayi hingga memandangi mereka besar kelak hanya karena alasan yang sebenarnya dapat ditanggulangi? Catatan : Peningkatan pembelian susu formula dalam 10 tahun terakhir ini di Indonesia sangat tajam dari sisi produk dan pemasarannya. Sayangnya tidak ada sumber yang dapat dipergunakan untuk memastikan situasi kesehatan ibu dan anak dalam pola ASI ini yang sesungguhnya. In most developing countries breast feeding has been declining, particularly in metropolitan areas. A 1983 Contraceptive Prevalence Survey allowed an examination of breast feeding determinants in five metropolitan cities in Indonesia using the proportional hazards model. The median duration of breast feeding among women in these cities ranged from 14.9 to 23.6 months. The circumstances surrounding birth and mother's eduction were important determinants. Women who delivered at clinics or who were assisted by ‘modern’ birth attendants weaned from 1.45 to 2.38 times earlier than women who delivered at home or who were assisted by traditional birth attendants. Women with higher than elementary education weaned from 1.21 to 2.03 times earlier than women with less education. The short duration of breast feeding among women delivering in modem clinic settings has important policy implications. Promotion of satisfactory breast feeding, rooming-in, and strict prohibition of formula advertising will help to reverse the decline in breast feeding. Sumber : http://tropej.oxfordjournals.org/cgi/content/abstract/34/6/270-a |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|





