| Ada Niat Gak ? |
| Thursday, 17 April 2008 | |
|
marmotji pening beneran, biasanya sih pening-peningan karena belum makan, bisanya cuman minum air, lalu minum, minum dan minum. Tapi ini beneran. Walau sudah tenggak pil, tablet, kapsul, puyer sampai jamu... bertemu dengan seorang teman yang sudah lebih dari 6 tahun terlewati hanya dalam ingatan saja. pertemuan seperti ini biasanya dihabiskan dengan tawa, atau tangis perih, karena saking pahitnya walau hanya bisa dikenang. ternyata inilah yang bikin pening. ya jelas, karena marmotji jadi teringatkan, betapa tak akan pernah terwujud sesuatu yang diidamkan, tanpa pernah panjatkan permohonan pada YANG MAHA PENGASIH, YANG MAHA KUASA, YANG MAHA BERKENAN. Teman ini, dengan lincah, seperti kebiasaan lamanya. Dia menunjukkan keberhasilannya bertemu dengan marmotji, hanya dengan PERMOHONAN YANG TULUS, agar dapat bertemu, dan dengan bekal permohonan itu, diniatkan agar setiap perjalanan dapat diluaskan pandangan matanya dan dapat menangkap sosok marmotji. Sungguh, saat bertemu dengan teman satu ini, binar matanya terpancar rasa syukur yang luar biasa. Sebuah kalimat syukur-hamdalah terluncur berulang-ulang, dan dua tangannya mencengkeram-guncang tubuh marmotji, seolah mengacak cermin, benarkah bayangan didepannya adalah teman lamanya. Mulailah kalimat-kalimat basa-basi saling dipertukarkan beberapa jurus. Dan dia mengajak marmotji masuk ke sebuah cafe yang lebih cenderung tampak seperti sebuah toko buku atau perpustakaan. Aku ingin dirimu mengelola tempat ini...! Aku minta, karena kamu adalah pencinta buku... - wadoh, buku kog dicintai, emangnya tukang loak, dicintai untuk ditimbang, kira-kira laku berapa... begitu saja berondongannya... marmotji dalam bingung, asal saja merespon ah...enggak, aku mencintai masa depan.. dan si teman ini berusaha membujuk... ya, buku adalah masa depan bukan ? dan kamu bisa membuatnya lebih ramai, kamu kan bisa berbagi apa pun yang kamu rasakan... teman ini benar-benar memaksa... dan marmotji pun memaksa...bertahan menolak..tahu diri. akhirnya..suasana menjadi antiklimaks... si teman-lama agak berubah temperamen...tak lagi bersemangat... beneran...gak ada niatan sedikit pun ke tawaranku ini ? Kamu sekedar suka saja, tanpa ada niatan untuk mencoba dahulu ? marmotji menjawab, kalo niatan, berarti harus banyak informasi buat pertimbangan, walau akhirnya cuma sekedar mencoba... tampaknya ia kecewa. bagi marmotji adalah aneh, tiba-tiba dipertemukan, lalu tiba-tiba ditawari, dan dipaksa... bukan tak bersyukur...tetapi takut menjadi masalah dibelakang hari... dalam perpisahan yang berakhir hambar, kepala marmotji mulai pening... hanya karena kalimat gak ada niatan... jadi mengingat celetukan seorang yang marmotji sangat hargai karena upayanya meningkatkan kualitas diri, Isa Anshari, seorang penyiar radio genre jazz... satu ketika dia mengungkap setengah guyon... hei..tanpa ada niatan...gak akan sebuah hasil hadir sesuai harapan loh.. oh..ya ? Jadi tanpa diniatkan menjadi sebuah persembahan, mana ada sbuah perbaikan terus menerus. Tanpa ada niatan untuk menulis, mana ada hasil tulisan yang bisa dicatat waktu demi waktu letak perubahan pemahaman penulisnya. Barangkali niat ini juga masuk ke dalam senyawa, atau formulasi visi...jajaran beberapa kata yang bisa mendongakkan dagu menantang waktu... Kan udah, niat jadi manusia hidup..pokoknya berusaha...benar kan...halal-haram kan urusan lain... salahkah ? Ya, bila tak ada niat merubah citra diri apalagi. bisa jadi, karenanya, marmotji menjadi pening, memikirkan perlukah meniatkan diri agar bangkit dari kekumuhan nurani ini. Apalagi pada sebuah kumpulan manusia yang lebih besar, mana ada hasil yang bisa diperbandingkan, kecuali keluh-kesah, caci-maki dan tatapan nanar, tanpa rasa syukur terunjuk pada YANG MAHA LAYAK DISEMBAH. Ada gak sih, niatan untuk menyembah ? |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|





