| Adzan Gelap |
| Tuesday, 02 September 2008 | |
|
Waktu marmotji masih kanak-kanak, emak selalu dengan semangat, menyeru; hoi, masuk, sudah maghrib. Jangan buang tawa di kegelapan. marmotji bingung, mengapa ndak boleh ketawa di kegelapan ? ada apanya dalam malam hari, ketawa aja ndak boleh. Bahkan waktu ke langgar pun, dengan lampu minyak di tangan, harus bersama-sama beberapa teman. Tidak boleh sendiri. Takut hilang termakan gelap. Duh..susahnya penerangan terbatas begini. Meniti pematang, menghitung langkah, tak boleh terpeleset, kuatir kecemplung sawah; jadinya basah kuyup tak bisa mengaji. Itu sekian tahun lamanya masih berbekas dalam ingatan marmotji. Kini rasanya tak perlu seperti itu bukan. Tak ada lagi oncor, api kehitaman menyembur dari batang bambu, memberi sedikit terang langkah kaki telanjang. Kini, tak ada lagi desis ketakutan tapak loncati pematang licin. Agaknya waktu itu, tak ada yang merasa enggan menuju mushalla Kaji Ridwan. Sudah pasti, semua ingin segera mencapai tempat itu, semua berharap dapatkan sekerat singkong hangat. Biasanya, kaji Ridwan, si pemilik mushalla, begitu mendapati sosok-sosok kecil berjalan dibawah oncor, langsung menyuruh ke sumur sebelah, ambil wudhu, masuk teras mushalla, memungut rebusan singkong itu, dan duduk menikmatinya. Tak lama, salah satu dari kami, ditunjuk menjadi muadzin Isya'. Barangsiapa yang tertuding menjadi muadzin pastilah memiliki kebagusan suara saat mengaji juz 'amma. Semua bocah pasti berlomba mencapai penghargaan itu. Makin sering ia ditunjuk, maka sudah pasti akan menjadi muadzin Dhuhur, Ashar, Maghrib bahkan Shubuh, bergantian dengan kang Kancil, julukan Kaji Ridwan pada seorang warga kampung yang bertubuh kecil, yang pernah sekolah di Pesantren Gontor. Coba, bocah mana yang ndak bangga, bergantian serukan adzan dengan orang yang mahir baca Al Qur'an ? tentu saja ukuran itu adalah dalam lingkungan kampung Plimping. Kaji Ridwan satu saat pernah ungkap, jangan sampai tak sempat dengar adzan dalam hidup hingga waktunya di'adzan'kan tiba. Itu tandanya hidup akan selalu berbungkus kegelapan. Wiih... Bertahun kemudian, marmotji masih bertanya-tanya, apakah kegelapan itu. Beberapa waktu lalu, ustadz Farhan pernah menyitir perumpamaan mengenali semut hitam, yang berjalan diatas batu hitam, dan dalam kegelapan yang kelam. Wiihh.. Ternyata kegelapan ini punya kesan yang tak terbatas. Kaburnya mata mungkin masih dapat dibantu orang lain. Tapi kalau kegelapan, siapa hendak bantu ? sama-sama tak bisa melihat, bukan ? Hinanya sebuah pengetahuan yang tak berujung, bak sebuah pelita padam dalam jeram. Whaduuuh... sebuah tuntunan berilmu haruslah dengan seorang guru agar tak sesat. Begitu seorang penyair Minang menyusunnya dalam sajak. Tak berpengetahuan, tak berilmu, gimana ya rasanya. Tak ada guru, tak ada yang bisa menuntun, gimana rasanya. Banyak bukan ditemui kini, orang-orang yang mampu melihat dalam terang cahaya, tetapi berkata-kata seperti dalam kegelapan. Karena tak memiliki ilmu yang seharusnya ada dalam perkataannya. Mungkinkah memang perlu dengar Adzan ya ?! |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|





