Tuesday, 06 January 2009
himprass
R Community-Enciety
studiolanskap.or.id
pramita
Stat-Ethics
Berbagi.NET
Alert2YourEmail
Gabung ke Milis
1.Milis Berbagi.NET

(Statistik/Psikologi)
2. Milis Parameter
Alumni-Stat ITS
-------------
Penjelasan
Bahasa, Cermin Apa ?
Wednesday, 12 March 2008
Buruk muka cermin dibelah. Lidah buruk, siapa mau dibelah ?

Bosan berkali-kali bicarakan cita-cita ingin maju. Karena kalau dibanding kalangan pemuka negeri di 1928 atau 1928. Ndak peduli mo dokter, ekonomi, filsafat atau apa.

Ini bicara kemanusiaan bukan bicara pekerjaan. Kalau singgung profesi, barangkali harus mikir, apa masih punya urat-malu nyambung atau endak.

Makna manusia hadir di tiap jengkal bumi ciptaanNYA adalah menanggung beban kekhalifahan. Entah di bawah tritis toko, entah dibawah kolong beton beralas kasur, bisa ngorok atau enggak.
Malu mustinya bicarakan pangkat. Waktu lahir procot, ndak pake lambang metalik atau melati.
Toh kalau kena banjir, tetep aja bilangnya tooollooonnggg.....
Ndak ada manusia yang menghadapi bahaya, trus bilang makasih..makasih...baru kali ini loh, saya dapat pengalaman bahaya...

Ada beberapa orang yang marmotji pikir adalah orang-orang cari sensasi, bilang 2008 adalah 100 tahun kebangkitan bangsa. okelah kalau cuman ngomong tanpa efek. Ternyata efeknya sudah milyaran dibelanjakan untuk promosi pariwisata. Hasilnya apa ? perasaan marmotji, orang-orang ini sekolah juga mbayar pake uang, bukan nglempar pisang atau telor ke gurunya. Kog bisanya cuman segitu...

marmotji mikir, keterandalan diri sekarang dengan kekuntetannya, mestinya malu bilang kebangkitan ke seratus, karena ternyata kalau dihitung-hitung berapa kata sih yang dikuasai tiap orang Indonesia dengan benar berikut makna, tafsir dan artinya ?

Hayo rek...ituuuungg... kalian itu bisa bahasa Indonesia berapa kata ? kalau kalian sudah lulus SMU, lulus sarjana, jadi penggedhe, jadi boss... bisa mimpin pertemuan senyaman apa ? sejelas apa ?

Bahasamu keluar pake mulut atau pakai mata, pakai bibir, pakai pinggul, pake bokong ? hah...?

Buat apa jadi sarjana kalo ternyata nulis saja ndak lebih baik dari anak SD bikin cerita berlibur ke desa embahnya yang embuh ndak pernah ngerti dimana letaknya dipeta.
Apa lagi jadi master, doktor yang ternyata menjelaskan pendapatnya secara lisan saja, masih pake kata sengau...ngng..ngng...ngng...
Orang sekolahan apa lalat ? kog masih pake kata sengau...mendengung.... apa memang lebih pantas jadi lalat bertitel doktor ?.

Kalo gitu ngapain boros tenaga hanya buat sekolah...kalau cuman bisa ngngngngngngngng..thoookkkk...mau jadi denbei ? Telaaat...ini sudah bukan jaman kiblik lagi !!!
Jadi tuan ndoro ambtenaaren...sudah telaat...
Tapi mau jadi si kumbang hitam pembela kebenaran, BERUBAH !!! apalagi...
telaaaat...

Negeri ini butuh orang-orang bergelar doktor bukan sekedar jadi saingan para penyiar berita, tapi menjadi tukang bedah kemajuan dan memajukan bangsanya. Standar kebisaannya adalah menulis, menulis...

Apa malah corat-coret doang bisanya ?
Keberanian bersilang pendapat ? jangan-jangan malah kalah sama siswa SD, abis musuhan akur lagi. kalah waras dong.
Ujung-ujungnya ngomong pangkat, bersudut kecanggihan koneksi. Atau cari kesangaran social networking ? Nggggooonddddhooooq ni yeee...

Kalo saja orang-orang begini diteleportasi ke jaman 1908 dan 1928, kira-kira jadi tukang keplok dan koor 'setujuuuuu' apa ya layak ?

Mari kita tilik setelah menghitung jumlah kata yang dikuasai dengan benar dan cepat terekspresikan.

Coba hitung, berapa banyak pikiran-pikiran anda yang sempat pindah kedalam tulisan ? Boooleeeeh, idolakan Sukarno, kalo kakek anda nasionalis. Tapi ingat, dia jago pidato, tapi juga jago baca, jago keluyuran perpustakaan, dan tulisan-tulisannya bagus. Ndak pernah baca ? Salah sendiri miskin akses, masih untung punya malu belum pernah baca tulisan Sukarno.

Ada yang idolakan Hatta, yang sosialis ? boleh. Berapa banyak manuskrip Hatta yang terbaca ?

Jangan-jangan idola anda adalah Sengkuni, yang hobinya bikin celaka Pandawa. weeeessssss....

Coba trace ke masa lampau, berapa banyak tokoh pergerakan yang buta huruf, dan ndak bisa nulis ?
Apa juga hatinya buta ? Cuman bibirnya thok yang cengar-cengir kayak bibir penyanyi kurang gincu...hah

Pembawa kemajuan adalah pemilik pemikiran visioner. Lhah kalau pemikirannya tak pernah ditulis, bagaimana hendak mengajak kemajuan.

Pendidikan yang maju, terjejaki dari banyaknya tulisan-tulisan bermutu. Kualitas hanya dapat diperoleh jika ada persaingan yang jujur dan terbuka.
Lhah kalo nggondhokan, maju dapat darimana...dari gigi tongos...trus bunyi..ting..

marmotji berani katakan, seratus tahun yang lalu jauh lebih maju dari sekarang. Dari sisi manapun.
Dari sisi penguasaan bahasa, jagoan-jagoan pergerakan itu minim kuasai tiga bahasa. Cari sendiri datanya. Sudah jelas bacaannya berkualitas.

Dari sisi jumlah buku yang dibaca, secara statistik pasti lebih banyak, hitung saja, Soekarno pada saat ditahan di Sukamiskin, sehari satu buku. HAMKA malah mberesin tafsir AL AZHAR dalam waktu 3 tahun ditahanan. Hatta sehari bisa menjalin 6 buku. Natsir bisa buka buku sekaligus 9 buah, Agoes Salim apalagi...dengan ketrampilannya lebih dari 10 bahasa.

Mereka bergelar doktor honoris causa !!! gak pake kuliah !!!

marmotji tidak berniat mencaci siapa pun doktor itu, tapi tolonglah jadi lokomotif independen. Sudah resiko saat mengambil gelar itu. Malu ah sama tukang becak, yang berani mahal menelan resikonya.

Bahasa adalah kunci kemajuan. Coba periksa, berapa banyak kosa kata sehari-hari yang cepat berpindah ke bahasa asing, Inggris misalnya.
Sadar gak seh... Awas kalo ma-mik(males mikir)

Dalam ilmu sains, ada epistemologi, ada pula ontologi...husss..jangan ngomong ontoseno...itu laeen...

Sadar gak sih, setiap hari kalo berinternet itu, ilmu statistik bergantung mati sama dua hal itu ? Kalo lagi googling, kalo lagi cari-cari...kog enak langsung nemu...?
Apa setan yang nyari ? Apa jin ?
Pikir dong...
Itu adalah sinergi ilmu statistik dengan epistemologi bersama ontologi.

Kecermatan berbahasa, berguna jelaskan pemikiran-pemikiran dengan seksama, agar tidak ada kesalahan pemaknaan.

Pernah coba jelaskan sesuatu dan uji lagi berapa kekeliruan yang terjadi setelahnya ?
Tolong dong gelisah !!!

Kesalahan pendidikan sudah jelas selama ini, karena bahasa yang sesungguhnya dimanfaatkan untuk berkomunikasi sudah makin kerdil menjadi sekadar bahasa wakil, cerminan kebutuhan ragawi, berupa uang semata.

Ya pantas saja, keinginan meneliti hanya sebatas pesanan, bukan karena rasa ingin tahu.

[.....
Pergi ke sekolah menuntut ilmu.
Ngantri nyogok agar terhormat karena almamater
Bukan karena bakal bisa peroleh kesempatan berbakti...
Ya pantas, pengetahuan ber Tuhan pun cuman hafalan...!!!!
'MALU' sudah masuk wc !!! gabung bareng kotoran perut.
.....]

Karena meneliti pun butuh kekayaan pikir, dan mana mungkin maju, karena sumber pengetahuannya adalah berbahasa asing.

Mau diterjemahkan ? Bisa apa bahasa nasional kita ? Wong yang punya gelaran paling tinggi saja, bingung kursus bahasa asing.

marmotji jamin tidak bakal bisa mahir, mengapa ? karena penguasaan bahasa-ibu mereka miskin sekali. dan marmotji bersikap demikian berdasar pengalaman dan pengetahuan.
Indonesia hanya punya kembaran satu, yaitu Thailand. Tapi sayangnya sekali lagi tak mampu manfaatkan kesempatan politik di masa lalu. Kini pengembangan teknologi Thailand pun bertaraf jauh dari Indonesia.

Satu-satunya cara adalah banyak-banyak menulis, berinteraksi, berani bersilang-pendapat, bukan berdebat !!!.
Perkaya bahasa Indonesia !
Kemampuan memaknai adalah kursus termanjur. Percayalah.
Sangatlah berarti perkaya makna guna kemajuan ilmu yang ditekuni kini.

Mari berkaca pada buku, jangan cari cermin.
Karena buku dibelah pun, tetap ada tulisannya.

Sumpahin Pemuda...
Berbangsa satu, bangsane pengecut...
Bernusa satu, nusa kambangan...
Berbahasa satu, bahasa pasaran...

Ndak usah ngomong nasionalisme, atau kebanggaan.
Ikat dulu perut pake batu, baru kacak pinggang yang bener. Awas celana mlorot !!!
< Sebelum   Berikut >
 
Beberapa Pendekatan Meta-Analysis

article thumbnail Saat mengeksplorasi sebuah situs penelitian, terkadang akan terasa menggelitik, untuk mengetahui hal-hal yang telah diperoleh darinya.Sungguh sangat beruntung dan menyenangkan sekali bila dapat...
Selengkapnya

Cara Pengajaran Pola Berpikir Statistik

article thumbnail Ada sebuah pendapat yang tampaknya semakin tidak populer di kalangan pengajar, pendidik atau pelatih. Pendapat itu adalah, setiap penerima materi belajar atau peserta pembelajaran atau peserta...
Selengkapnya

TIPS, Layakkah Saya Mendapatkannya ?

Salam kelirumologi dari saya, Marbusan. Selamat bertemu lagi dengan kelirumologi, setelah beberapa tulisan saya mengulas topik yang dianggap beberapa teman termasuk “berat”. Saudara, kali...
Selengkapnya

Mengenal PSIKOANALISA FREUDIAN (I)

Kepribadian Umum dan IDSalam Psikologi Klinis dari saya,Marbusan. Saudara, siapa yang tak kenal dengan Sigmund Freud? Bagi kalangan Ilmuwan Psikologi, Freud dianggap sebagai tokoh utama yang...
Selengkapnya

desava
LawuHandmade
AriesTranslation
Pengujian Piranti Lunak komputer yang sertakan Analisa Statistik

article thumbnailPengujian secara statistik menyajikan sebuah pendekatan yang saat ini telah mapan sebagai prakiraan tentang kemampuan sebuah piranti lunak. Cara utamanya adalah menguji fungsi-fungsi yang diingini,...
Selengkapnya

Cuplikan :Keracunan dan Jantung Akibat Polutan Bahaya Emisi Buangan Kendaraan Bermotor

article thumbnail dr. I Wayan Darwata, M.P.H. mengungkapkan, bahwa zat yang keluar dari asap knalpot dalam bentuk gas ini terbuang ke udara dan bersenyawa dengan polutan sehingga konsentrasi udara terganggu dan...
Selengkapnya

Obesitas dan Penyakit Jantung

article thumbnail Dilihat dari segi estetika tubuh, orang yang kegemukan tampak kurang menarik. Dari segi kesehatan, orang yang kegemukan mempunyai resiko tinggi untuk terkena penyakit tertentu.Kegemukan atau...
Selengkapnya

Pengaruh Perubahan Iklim Abad 21

article thumbnail Sebuah laporan setebal 284 halaman dari U.S. Environmental Protection Agency, lembaga perlindungan lingkungan tentang ancaman Pemanasan Bumi terhadap manusia telah dirilis pada akhir bulan Juni...
Selengkapnya