| Bambang Ekalaya |
| Saturday, 13 September 2008 | |
|
Dulu, duluuu sekali, film-film tahun 60, 70, sampe barangkali di pertengahan 80an, gambaran seorang anak belajar di rumah selalu stereotip. duduk, dua tangan diatas meja kecil, ada pelita di ujung meja. Selalu dilukiskan seperti itu. Film-film itu kemudian ditingkahi adegan bermain dengan anak-tetangga-sebaya, lalu si ibu memanggil, waktunya belajar, nanti boleh main lagi. Anak-anak bubar, masuk rumah, cuci tangan-kaki; rasanya enak, teratur, dan terekam walau agak gamang bertanya, benarkah kenyataannya seperti itu. Karena belajar, pasti anak ini masih sekolah; jadi rekaman pagi hari selalu ada adegan berangkat ke sekolah; jalan kaki rame-rame, bersepeda, atau diantar. Sedikit adegan yang menunjukkan adegan berangkat-sekolah yang dijemput pacar, atau gunakan mobil. Stereotip kan ? Ada kalanya terpampang kegiatan belajar-kelompok karena tugas sekolah. Sudah... ? marmotji tak terlalu bisa merangkum begitu banyak bentuk kegiatan anak-belajar, maklum, besar di pelosok desa, hanya bisa menikmati sebentar kegiatan belajar dan mengaji. Belajar, istilah yang dikenal karena sekolah. Entahlah, bila berlangsung karena alasan lain. seingat marmotji, belum ada belajar berhadiah. marmotji masih mencari-cari alasan lain untuk belajar, bila tidak ada kegunaan untuk sekolah esok hari, sedikitnya karena ada tugas, pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, dan diperiksa esok hari. Benarkah belajar dan tidak belajar, itu ada bedanya ? Benarkah belajar bisa bedakan tahu dan tidak tahu ? Benarkah belajar hanya sekadar kewajiban ? Benarkah belajar karena ada kaitan dengan kelulusan ? Benarkah belajar mampu buat seseorang lebih tahu ataukah karena mampu beri kehormatan berupa gelaran ? Benarkah belajar memiliki kelebihan mengasah kepribadian ? Siapa bisa berperan lebih agar makna belajar ini luas dan berguna ? Seseorang belajar tentu butuh peran sosok pembimbing, yang menunjukkan arah belajar dan kegunaannya. Bisakah seseorang yang belajar sendiri itu mampu hadapi tantangan hidup ? Bisakah seseorang yang tak bersekolah, belajarnya bisa beri kemampuan yang baik ? Tentu tak ada yang mau meniru Bambang Ekalaya, sejago Arjuna, tapi tak pernah berguru pada Sang Begawan Durna?Adakah ? Apalagi di jaman yang katanya, bisa dipastikan, berTuhan sedang tak lagi jadi alasan. Seseorang bertindak, pasti bisa ditebak, apa motif yang jadi pendorong aktifitasnya. Paling sedikit uang. Benar..kan ? Seperti halnya rekan-rekan Guru yang mendapat insentif kehormatan, berupa uang. Sementara, yang berada di tingkat lebih tinggi, tentu berebut agar peroleh sesuatu yang tidak sekedar amplop. Silakan saja tolak, tapi toh begitu teman-teman marmotji menilai. Untuk apa belajar tanpa sesuatu alasan ? marmotji jadi ingat alasan danus, keponakan Gondrong dari desa, yang bertanya, mengapa disuruh mengaji... danus dengan leluasa menunjuk pamannya sendiri, yang tak lulus SMP, toh bisa memberi uang saku sehari sepuluh ribu. Tak seperti ayahnya sendiri, yang sarjana, tak bisa beri walau sekedar uang beli Es. Buat apa belajar jadi sarjana...? teman-teman sekolah danus yang jadi pengamen dan pemulung, justru tak pernah menadahkan tangan demi uang sangu sekolah, pada orang tua mereka. Mereka telah punya uang sendiri. Gondrong menyuruh marmotji bercerita tentang si wayang Bambang Ekalaya. Tapi, buat apa, toh itu cuman cerita wayang. Apa bisa menjawab kenyataan, walau sekadar uang saku ? Yah, jikalau diceritakan tentang orang-orang yang bergelar lebih dari sarjana, pastilah harus dijelaskan, berapa mereka dibayar, dan bagaimana mereka hidup. Apa harus bercerita tentang belajar karena berTuhan ? Kalau sang Guru, yang gembar-gembor ke sana-kemari mengajarkan kebaikan dan kesempatan masa depan, nantinya akan ditinggalkan murid-muridnya setelah paham ? masihkah tepat beralasan karena Sang Guru cukup kaya, jadi pasti ada tujuan kekuasaan, bisa dianggap betul gak ? marmotji berkeras, tanpa ilmu dan pengetahuan, hidup akan kesulitan. Tapi danus-lah yang membukakan pilihan lain, keberanian belajar sendiri tanpa guru, seperti Gondrong dan teman-teman sekolah, malah bisa bikin percaya diri. Belajar dari jalanan, begitu ustadz Farhan pernah ungkap. Lalu, belajar dari mana dan dari siapa, enaknya. Ndak perlu mikir keras, bisa hidup santai dan senang ? Ataukah masih perlu jutaan pahatan patung Begawan Dorna untuk jaman ini... |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|



Tentu tak ada yang mau meniru Bambang Ekalaya, sejago Arjuna, tapi tak pernah berguru pada Sang Begawan Durna?

