berbagi.net in metamorph
Muka arrow Artikel arrow BerbagiTilik arrow Marmotji'an arrow Dalam Ingatan
Tuesday, 06 January 2009
 
 
Stat-Ethics
Berbagi.NET
Alert2YourEmail
Gabung ke Milis
1.Milis Berbagi.NET

(Statistik/Psikologi)
2. Milis Parameter
Alumni-Stat ITS
-------------
Penjelasan
Dalam Ingatan
Saturday, 01 November 2008
Lebih dari dua puluh tahun lalu, seorang kawan seperjalanan dalam tugas, menceritakan ketakjuban dan penyerahan ke-aku-an yang lemah atas kekuasaan Yang Maha Layak Disembah...

kawan ini, tidaklah menyengaja saat membandingkan perputaran terang dan gelap hari dengan perjalanan mencapai pokok Leuser, lebih banyak kegelapan menyelimuti, menyudutkan langkah kami menjadi khawatir tersesat dalam belukar.

Gelap pupus langit merah, menghentikan kami, di sebuah bekas perapian perambah hutan yang masih mengepul. Para pengangkut barang menyorongkan potongan tebu berlapis hitam, dan segenggam kapur-sirih, dengan kalimat lirih, untuk kesehatan kami. Pahit sekali, tapi lumayanlah buat latihan mengunyah.

Gimana ya rasanya, kalau menjalani hidup seperti jalan-kaki kita ini ya ?
Sehari jalan di jalan yang tak datar, penuh akar, takut disedot lintah, disergap ular, tergores dahan tajam, belum lagi ketakutan karena tidak tahu alam ini sebenarnya kejam atau bersahabat. Rasanya lengan mau putus, terus mengibas parang, memotong dahan yang menjulur, menghalangi pandangan mata ke depan. Belum lagi jari kaki harus menggenggam dasar sepatu, mati rasa ah...

Kalau suasana sehari jadi berhari-hari bahkan bertahun, apa ya bisa menanggung ?

Waktu itu, kami yang lain, tak paham apa yang terlintas dalam benak teman satu ini... masih tersengal, plus iseng memijit kaki...

Ketidaktahuan lintasan yang mana yang paling dekat, yang paling tidak melelahkan, yang paling gampang dilewati, gak licin, gak berbahaya...

Waktu pertama ke Jakarta aja, walau gak tahu, masih bisa tanya, kalo dihutan, nanya sapa ?

"Jangan melulu mengeluh, tambah lelah lho.." entah suara siapa, karena tak tampak wajah sama sekali, ragu-ragu nyalakan senter, takut habiskan batere... ya untung saja, bekal korek api kami cukup banyak, jadi lumayan...buat teruskan perapian yang tersisa

Mau teruskan, mata tak bisa awas... bikin obor, kekayuan basah semua... rasanya keberanian sudah menipis cepat...

Tak diteruskan dan menginap ? wah, seperti menunggu sergapan ketidakpastian ancaman, ya gak ?

Akhirnya, kami menyerah pada keputusan para pemanggul beban yang cenderung suka melanjutkan terabas hutan, dengan sedikit menahan malu, berpindah posisi ke urutan tengah, seolah terlindung kekar tubuh mereka.

Kami menyerah karena rasanya tak mungkin makan bekal yang sedikit untuk orang sebanyak rombongan ini. Menyerah, karena ketidaktahuan jejak-jejak hutan dan arah mata-angin. Takjub kami pada keperkasaan para pemanggul yang semenjak usia kanak-kanak telah terbiasa dengan beban lebih berat dari bobot mereka. Terperangah kami, saat fajar merekah, ternyata telah di ujung hutan, dan mereka benar... persis berada di patok mata memandang, sebangunan warna putih, tujuan kami telah tampak...

Akhirnya, sambil agak berleha, karena dataran agak rata telah dipijak, Musar, salah satu pemanggul beban, bergumam, untung kami mengikuti saran mereka, terus berjalan. Kalau tidak, dikuatirkan, ada korban yang terpatuk ular.
Bukankah telah membawa tembakau ? ah itu salah-kaprah. Sikap terbaik saat ragu-ragu di dalam hutan adalah terus bergerak, bisik Musar. Dia pula yang tadi telah menegur kami agar tak banyak mengeluh.
Kalimat-kalimat Musar saat mengobrol, benar-benar membuat tersungkur pada rasa syukur. Benar, ilmu Yang Kuasa itu tersebar dimana-mana.

Musar, dia telah dikabarkan kembali padaNya, tapi pelajaran darinya tetap dalam ingatan. Pelajaran singkat yang tak sederhana. Ya, dari waktu yang telah lama, tetap berguna hingga kini.
< Sebelum   Berikut >
 
 
Top! Top!