| Dinamika Santun berPengetahuan |
| Sunday, 02 March 2008 | |
|
Di masa kecil marmotji, ada seorang Master Ceramah di kasetnya pernah bilang, si kaya belagu masih mending, dibanding dah miskin masih pula belagu. Yah si master ini pun menurut marmotji waktu itu dah bener, walau kini marmotji merasa ndak ada benernya sama sekali. Bagi marmotji, si kaya bisa bermanfaat maksimal dan gak belagu pun, masih kalah jauh sama si miskin yang bisa bermanfaat maksimal dan blas ndak bisa belagu. Tapi masalahnya emang ada yah, si miskin tapi belagu.? Nah, mari berdingklik-tika(daripada berdialektika, marmotji malah ndak bisa mikir kalo ndak duduk dingklik) Pernah dengar kan besar pasak daripada tiang ? tapi pernahkah liat bangunan tanpa tiang tanpa pasak ? bila pernah liat, kira-kira masih ingat endak komentar apa yang pertama kali keluar ? Kepikir ndak bahwa kalimat itu satu ketika akan lenyap bersama dengan berbagai kalimat peribahasa yang lain. Tak ada pasak, tak ada tiang, dan tetap beratap. Setiap saat pastilah ada perubahan, bahasa persisnya adalah dinamika. Nah, tidak banyak yang dengan cepat, mampu mengikuti perubahan itu, walau dia sekaya Qarun. Bahkan pangkatnya hanya bisa dimiliki hanya beberapa gelintir orang aja. Percayalah... Terbukti, urut saja anomali-dingklik ini Kasus susu-nya bu menteri. marmotji bilang begitu, karena bu menteri lebih nggegeri dibanding orang-orang IPB. Lha wong dia cuman dokter jantung. Jagonya ya cuman sebatas jantung manusia, bukan jantung tikus. Sebanyak-banyaknya bu menteri muncratkan kata buat ngomong, ya udah, paling-paling hasil dari baca, bukan pengalaman. Apalagi kasus jantung, ya pinter aja si presiden, masang menteri dari profesi ini, karena kalo tukang tambal ban, wah bisa gosong tikus-tikus percobaan itu. [ndak usah mikir, sama-sama ndak cerdasnya aja] Makin banyak kekurangan fakta, biasanya jadi lebih banyak ngomong. Udahlah..percayalah. marmotji pun yakin, gak bakal menteri itu maen internet, daripada jantungan baca ribuan blog yang kritisi omongan dia yang justru berbalik. Alih-alih melindungi rakyat, tapi malah membunuh harga dirinya sendiri. si menteri sudah abai, gunanya apa pendidikan. Kalau cuman jadi kaum penurut, cukup cambuk, tidak perlu kelas. Kasus PLN, alih-alih mengeranjangkan si Dirut, tapi ternyata malah bisa mainkan kartu cerita perusakan yang asyik. Rakyat memang tidak bisa dikonotasikan miskin, sehingga muncul istilah rakyat miskin. Jadi konyol pula mengakali peraturan negara yang mengharuskan keputusan politik TDL lewat palu meja dewan perwakilan. Apakah masyarakat tahu proses politik kecuali kampanye ? Anehnya lagi mengapa proses ambil keputusan harus pakai ketemu muka, padahal PLN sudah identik dengan teknologi modern. Atau barangkali sudah mau geser ke singkatan Pabrik Lampu Negoro ? karena malah jualan lampu hemat energi langsung ke masyarakat luas. Jadi pura-pura tidak paham masalah, agar sempat manfaatkan situasi 'mengutil'. Karena bisanya begitu, perubahan akan membawa kebingungan, nah disaat jeda karena semua sedang bingung, maka itulah kesempatannya, persis seperti kejadian lampu mati saat ada kenduri. Dinamika adalah ketidakmapanan, situasi yang terus menuntut perubahan, seperti roda pedati saat masuki jalanan berlumpur. Siapa pun, saat menaiki pedati, dia harus turun, injak lumpur, dorong pedati. Belepotan ?. Yah... jelas. Kalau pun ada yang tetap diatas pedati, malah seperti bermain problem, kalo tiba-tiba pedati terbalik, terkena batu, yah resikonya...kena lumpur deeeh... Dinamika yang bisa jadi contoh adalah dinamika Muhammad saw, antara keberangkatan ke langit dan keputusan madaniyah. Tak ada perubahan kebijakan yang menyentak, tetapi perbincangan menuju titik awal perubahan sangat intens. Tidakkah semua menginginkan kemanisan selama hidup. Manis adalah manis, tak perlu pahit diantaranya. Tak perlu pengalaman untuk membedakannya, karena pengetahuan telah dianugerahkan. Yang perlu dimaknakan lebih adalah, seberapa mampu mencerna dinamika jadi ublekan nasib. Bisa tetep bersih, atau malah belepotan kotor dan tak bisa bersih lagi. Bukan korban, bukan pelaku, tipis bedanya. Tetapi harus turut serta dalam dinamika. Yaa...persis sama dengan kasus susu dan tarif listrik. Memang disadari harus ada usikan, agar lebih mahir terhadap goyangan waktu. Tetapi bagaimana mampu menyesuaikan diri. Bukan malah belagu, seolah tak ada lagi pilihan tersisa. Namun, apakah tak ada sikap yang lebih santun saat menyampaikan perubahan ? Gempa saja santun kog memberitahu saat hendak bergetar hebat, tak ada di dunia yang berubah tanpa pemberitahuan, atau barangkali memang butuh ditambahkan, agar tegas, seperti Kitabullah, hanya untuk orang-orang yang berpikir ? Yah, apa masih kebiasaan: ndak perlu belajar kalo ndak kepepet? Maknakan sebuah bangsa tanpa pasak pemuda, tanpa tiang pengetahuan. Lalaikah masa depan bangsa, tanpa atap kesantunan ? |
| < Sebelum |
|---|





