| HarMisNas... |
| Saturday, 03 May 2008 | |
|
Beberapa hari ini marmotji gelisah. Tak punya duit, ditawari pekerjaan, tapi hati kecilnya menolak. Pekerjaan ini tidak halal. Tidak barokah. Begitu bisik hati kecilnya. Pekerjaan itu sebenarnya sah menurut hukum Indonesia, apalagi sudah kirim pemberitahuan ke polisi. tapi tak santun menurut aturan tata krama bekerja. ini masih menurut hati kecil marmotji. Bekerja kan sebenarnya sebuah cara mengisi kantong, cara mengisi dompet, agar bisa beli makan. Dari pada kelaparan. hati kecil sepakat. Pekerjaan apa sih, kog repot banget, pake melibatkan hati kecil segala ? lapar, ya terima saja pekerjaan itu. Toh kalau salah, tinggal istighfar... ![]() KURANG AJAARRRR!!! Mana bisa permohonan ampun diunjukkan dengan perut kotor ?! Dimana letak iman ? Hanya satu tempat yang layak jadi tempat MENGEMIS ! ya hanya Tuhan yang tak pernah bisa diduakan !!! JANGAN MACAM-MACAM. Buang kedunguan itu. Haduh. marmotji tambah gelisah. Hati kecilnya makin tak keruan ngomel. Sebenarnya apa sih pekerjaannya ? pekerjaannya sih tak perlu diploma, tak perlu sertifikasi. tak perlu ijazah. Karena cukup hapal 4-5 deret kalimat. Bisa kepalkan tangan, wajah beringas, dan teriak-teriak. Kerja apa sih ? DEMO ! ya, pekerjaannya cuman DEMONSTRASI. ya sekedar 5-6 jam saja. dibawah terik matahari. Bayaran akan ditambah 100% jika ternyata dihalau dan bentrok dengan polisi. Halaaaah....terima saja. Kan gak ada dosanya. Dungu macam apa, kerja gitu aja ditolak. Wah, bener-bener deh. Ndak punya moral. ndak punya mental baik. Apa sih yang dipikir, selain butuhnya sendiri. Cobalah mikir. Demonstrasi itu isinya apa. kalau ternyata isinya menjelek-jelekkan orang lain, atau mencoba memanipulasi anggapan masyarakat, gimana. ? apa ndak dosa ? Belum lagi, demonstrasi itu pasti menyusahkan, minim buat para polisi yang harus pake alat macam-macam, kayak pasukan romawi di film-film itu. Whaduuuh... Pekerjaan yang menyusahkan orang lain, berarti kan ndak ada baik-baiknya samasekali. Gitu kog enak aja, makan bayarannya. Tapi kan, boleh ? berarti dihalalkan. Itu yang mbolehin, mungkin dulunya ya bertahan hidup dari demonstrasi. Dia mikir hanya mencarikan peluang teman-temannya bertahan hidup. Halah. itu prasangka. Ya, kenyataannya. Ndak dipertimbangkan. Demonstrasi aja trus diolah kata jadi unjuk rasa, kayak koki aja, rasa bawang, rasa kencur, rasa tomat, rasa lombok... Apalagi ternyata unjuk-rasa itu mengkoreksi kebijakan yang selengkapnya ndak banyak diketahui dengan lengkap. Kan malah jadi petaka. Itu gak cuman dungu, tapi tolol. Lihat aja pas hari pendidikan nasional ini, ya yang kejadian di tahun ini, tahun 2008 ini. Semua demo. minta peningkatan kualitas hidup para guru. Yang naik gaji. yang naik tunjangan. yang minta naik anggaran. Halaahhh.... Ngemis kog pake demo... Ya udah tho, nulis aja, dimana-mana. Telitilah. Benarkah penghasilan gak bisa nutup pengeluarannya. Susah amat... Wong guru, kog kayak penyanyi derita, menghiba-hiba, pake teriak-teriak. Kalau ndak bisa hidup jadi guru, ya cari pekerjaan lain. Susah amat. mbok ya malu sama buruh tani. Mana pernah mereka bisa unjuk rasa, bisanya ya unjuk arit, atau unjuk pacul. Padahal tanpa mereka, mana bisa makan ? Hati kecil marmotji malah melebar kemana-mana, puyeng deh. Ya daripada hardiknas itu diperingati kayak gitu, pake demo. ya udah. bikin aja HarMisNas, hari ngemis nasional, semua bareng-bareng demo, yang ngemis-ngemis. halaahhh... Wong mendidik diri sendiri saja gak bisa, kog pake demo, nuntut perhatian, alias ngemis perhatian... marmotji berkeringat dingin, hati kecilnya tak mau tahu, terus saja nyerocosss.... Malu ahhh.... daaaan....marmotji pingsan. |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|






