| Ini Bukan Untukmu |
| Tuesday, 15 April 2008 | |
|
adakah yang aneh, jika bayi bisa makan nasi goreng ? adakah yang aneh, jika ada anak usia balita bisa duduk di depan komputer, lakukan transaksi komoditas, sementara orang tuanya ongkang-ongkang ngelus-ngelus anjing kesayangan keluarga ? bila itu dianggap aneh, lalu apakah bisa disebut aneh, jika ada seseorang yang mampu mencerna sebuah pengetahuan yang lebih jauh dan luas dibanding batasan usia, batasan pengajaran atau batasan kebijakan kependidikan ? Sesuatu yang menggelitik marmotji, jika mendengar keluhan-keluhan yang berujung pada kalimat, kalian itu terlalu jauh mbahas topik ini, terlalu tinggi buat level kalian !. Lhah ?! Kog aneh. Pada lazimnya, siapa pun akan merasa bangga, mongkog. Jika ada seseorang yang dianggapnya masih kecil, ternyata mampu kuasai sesuatu yang melebihi kemampuan intelektual sebayanya. kalo dengar kalimat itu, apa bukan membatasi ? ato boleh dibilang mengekang. Trus ukuran kemajuannya dimana ? Oke...dipapar saja yah... Dalam dunia kependidikan atau kepengajaran, apa yang melatarbelakangi motivasi seseorang untuk terlibat menjadi seorang pendidik atau pengajar ? bagi marmotji, jelas yang paling atas dan utama, adalah kesempatan. Kemungkinan seseorang jadi maling atau pengajar hanya bisa besar kalau ada kesempatan, dan sama besarnya. Ndak ada pengaruh dari lingkungan. Seseorang jadi pengajar, bukan jadi pelaku profesi lain karena lingkungan keluarganya adalah kebanyakan pengajar. Lha kalau pengajar senam aerobik ? mungkin aja, karena jenis kegiatannya termasuk langka untuk dihitung dengan reputasi dan prestasi. Tapi sekali lagi kesempatan adalah penyebab tingginya motivasi seseorang menjadi pengajar. Nah, karena adanya kesempatan, maka hal lain yang bisa mempengaruhi kualitas ajar menjadi tinggi atau sebaliknya, akan mengecil. Coba saja lihat hal berikutnya, ya tentu saja adalah kemampuan minimum yang bisa dibilang prasyarat menjadi pengajar. Seseorang yang merasa memenuhi prasyarat, akan segera membentuk dirinya menjadi seseorang pengajar. Dengan kebutuhan kegiatan pengajaran yang luar biasa seperti sekarang ini, tentu batasan ini bisa naik-turunnya. Bukan pada demografis, tapi pada anggaran. Aneh. Setelah itu baru disusul dengan iming-iming keuangan yang luar-biasa. Ya, terserahlah, mau dibantah ya boleh. Dengan pembuktian, bahwa gaji kurang dan sebagainya, ya silakan. Wong marmotji bilangnya iming-iming keuangan, bukan gaji...yeee... Nah, ini bisa jadi pemicu kesertaan seseorang dalam barisan para pengajar, disamping faktor budaya bahwa menjadi birokrat, keamanan dan pengajar adalah peluang peroleh kehormatan tak terbatas, dan bukakan pintu ke bidang kerja lainnya. Dan ini pula yang memantik perilaku yang bisa seenaknya membatasi sebuah rasa-ingin tahu, bahwa mengetahui dan membahasnya melebihi porsi usia dan tingkat pembelajaran adalah keliru. Seolah jadi hukum. Apa sih ukuran sukses pendidikan dan pengajaran ? Jika sumber pengetahuan, begitu luas dan banyak dapat diakses dengan mudah, kenapa harus membatasinya ? Jika ternyata memang bisanya ngajar cuman segitu aja, waaaahhhhh..... malapetaka, dah itu aja. buka mata dengan seksama. adakah sudah terjadi akibat-akibat pembatasan itu, atau karena cuman bisa mengajar, tapi endak buat mendidik. ya udah.... selamat datang ke dunia malapetaka. apa kata dunia selamat ? entahlah. |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|





