| Jenius vs Pekerjaan |
| Friday, 11 April 2008 | |
|
Berpuluh tahun, anggapan, kalau tidak pintar, atau malah bisa dibilang jenius, tidak akan peroleh pekerjaan. Bukan pintar atau jenius saat disekolah/akademi/universitas, tetapi kemampuan bekerja dengan baik bahkan peroleh apresiasi dari rekan kerja atau atasan. Contoh ringan saja, bila tidak memiliki kemampuan berhitung yang baik, maka rasanya bukanlah layak untuk bisa berperan dibidang keuangan, dan semestinya diserahkan pada orang lain yang lebih mahir. Karena bila dipaksakan, entah dengan alasan mencari penghargaan atau merasa tertantang, maka setidaknya akan kehilangan banyak waktu hanya sekedar untuk mempelajari sebuah peluang yang tidak perlu diambil. Rasanya, telah banyak orang menerima nasehat ini dengan mudah. Dan kenyataan telah mampu menunjukkan bahwa energi bekerja lebih dapat digunakan optimal. Jangan abai, ada pula kejadian, mahir dan trampil lakukan sebuah pekerjaan spesifik, belumlah sebuah peluang baik untuk tempati lowongan yang ditawarkan. Singkatnya, belum tentu pantas, hanya dengan alasan mahir dan trampil. Cobalah setiap saat tertentu, secara rutin, hitung seberapa ketrampilan dan kemahiran yang dimiliki, apakah menunjukkan pertumbuhan ? tentu saja dengan realistis, membandingkannya dengan kebutuhan kegiatan di luar diri sendiri. Seperti halnya pekerjaan-pekerjaan yang secara sepintas membutuhkan kemahiran tertentu dalam matematika bukan sekedar pada batas aritmetika. Bahkan jika ditambah minat sekalipun, belum tentu dapat mencapai kepantasan memenuhi lowongan yang ada. Banyak hal yang menuntut kemampuan matematis lebih, seperti memperoleh dukungan pendanaan bagi perusahaan, mengelola dan memperkirakan penjualan, mendapatkan dan menegoisasikan kerjasama strategis. Walau merasa bisa dan minat, pertimbangkan nilai kepantasannya. Yang terjadi adalah sebaliknya, jika merasa bisa dan minat, yaitu nilai pribadi menjadi turun, terutama penguasaan pada tuntutan pekerjaan spesifik itu. Lalu apa sebenarnya nilai kepantasan yang menjadi tuntutan ? Kemampuan membagi, berbagi dan terbagi dalam ukuran jenis yang lebih kecil, pada porsi peran pekerjaan yang sedang diinginkan. Apa itu ? kemampuan mendelegasikan, kemampuan berorganisasi, kemampuan bekerjasama, kemampuan meneruskan pesan tanpa berubah makna, kemampuan menerima tekanan pekerjaan, dan akhirnya kemampuan mengelola proses kerja. Lihat sekeliling, telah banyak kegiatan berlangsung keliru dan tak efisien karena batasan kepantasan telah diabaikan. |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|





