| Kaya Digauli.... |
| Tuesday, 08 April 2008 | |
marmotji tak pernah sekali pun, merasa bisa diam begitu saja, waktu Gondrong tak sekedip saja mengerling padanya.rasanya sudah bisa maklum, apa yang mengganggu ketenangan Gondrong berdagang jasa makan-minum saat ini. seperti banyak karib lain yang bingung, bagaimana panas api bisa bikin air mendidih atau beras jadi empuk, bila tak ada bahan yang bisa dipake. emang pemantik bisa ? coba saja cari kebingungan yang lebih tinggi dari tak ada bahan yang bisa dibakar. mau memanasi pake apa ? Bila saja, ya sekedar berandai-andai, bila mendadak lingkungan tempat bernaung selama ini, tak ada listrik, tak ada air mengalir dari kran, tak ada penjual menjajakan dagangan. Senyap. Yang ada ketakutan. Khawatir jadi korban berdarah-darah. Perang. Siapkah ? marmotji bergidik, bukan sekedar takut perang, kan cuman salah satu cara menuju mati, ya gak ? tetapi karena melihat sekelilingnya, siapa paling siap dan paling tidak siap ? banyak orang merasa kesepian, hanya karena tak ada layar tonton tak sedikit yang merasa merana, karena tak ada suara radio terhitung lebih dari beberapa gelintir, tak bisa pejamkan mata dengan cahaya lilin dan tak ada AC bisakah bangun tidur, basah kuyup peluh ? mampukah tenang-tenang saja, sewaktu harus menjerang air dengan bilahan kayu, apa ndak takut legam abu ? kemajuan apa ini namanya, yang isinya hanya daftar panjang ketergantungan. masih ada yang bisa disusulkan. tak bisa berpindah tempat tanpa motor, bahkan hanya bisa, gunakan mobil semata tak bisa makan-minum, tanpa terbuai suasana semilir nan sejuk tak bisa merasa nyaman, saat tak ada papan ketik teks-mungil, bahkan merasa tersisih. Ahhh...rasanya menjelma bukan manusia. Siapkah tanpa senyum-bentak kawan karib. Siapkah tanpa tegur-sapa keluarga tersayang. Siapkah tanpa lambai-tabik para bawahan, Siapkah hidup sendiri-mandiri, tanpa alat ciptaan orang lain ? Bila ada perang, pernah terpikir, hendak sembunyi dimana ? dimana para preman tak lagi bisa bantu. marmotji ingat bertahun lalu, saat pertama kali mengenal sosok Abi Dzar al Ghifari. sosok yang diam tapi tak bisa didiamkan. pesona yang tenang tapi tak bisa ditentangkan. pribadi yang bersinar tanpa peran yang perlu disoroti. Apakah ini wisdom ? apakah ini ajaran kebijaksanaan ? apa sumbernya ? sebegitu saja seolah pribadi yang terbawa dari masa lalu ? Abi Dzar hanyalah seorang sobat Rasulullah saw, tanpa corak bak Umar atau Ali. dia bukan pula seperti Salman, yang bermain Khandaqtekno. Dia hidup benar-benar bak martir, sesuluh semangat berkhittah. Jurus ber-dien saja. Tak ada yang lain. yah..sekedar catatan sejarah. Sendiri, seperti lahirnya. Sendiri, seperti saat mengajarkan dien Sendiri, seperti Pribadi Yang Dicontohnya. Sendiri, hingga saat menemukan tepian batas ajang kehidupannya Tak ada yang tercampurkan antara kultus, kultur, dan dien. Indahnya bercinta dan bergumul dalam deburan pasir keimanan. Wong sudah jelas-jelas hidup sendiri, kog masih cari temen. korupsi saja berjama'ah. korupsi itu halal, kalau berjama'ah. karena penjara sekarang sudah tak lagi dapat menampung. karena bebas tanpa sanksi, apa mau sangsi bahwa itu bukan halal. mencuri itu haram, mengutil itu haram, tapi dien tak kenal korupsi. penalaran mencuri tidaklah padan dengan korupsi. Halal saja. karena korupsi bukan saja perkara harta, uang atau aset. tapi masa depan, waktu, cita-cita, mimpi dan syahwat. heh..? syahwat ? apa bisa dikorupsi ? jelas-jelas bisa. Buktinya negeri ini bekerja keras perangi akibat penyimpangan syahwat yang mustinya tersembunyi, hanya antara cinta suami-istri, dipapar dengan tawa kenikmatan. Dengan sendiri bak Abi Dzar, mana bisa tahu, ada yang namanya ngutil, ada yang namanya nyopet, ada yang mencuri. Bahkan tak bisa bedakan kejujuran dan lawannya. Adanya hanya pengetahuan, seperti itulah yang diajarkan Rasulullah. Ayat-Ayat Qur'ani dari mulut yang tersucikan, tergantikan ayat-ayat bersyahwat mengumbar sakral kasur. tak perlu malu, jika nalar pun sudah tak bisa memilih, seperti Musa lebih memilih bara dari buah, dari pada mati konyol dibunuh Ramses bin Pak Paraho bin Fir'aun (Ramses itu temennya Ramirez ya?). pribadi yang dibanggakan karena keterbukaan, tetapi tak bisa membanggakan kesendiriannya saat harus memilih, mana aurat, mana syahwat dan mana nurani. Bila orang seperti Gondrong, tak mungkin membakar rambut panjangnya agar bisa panaskan air sekedar cukup segelas kopi. apa perlu bakar kehormatan demi kehidupan yang tak bermakna ? marilah halalkan lokalisasi, hanya semata-mata kepentingan sosial dan ekonomi marilah halalkan mencontek, hanya semata-mata kepentingan kecerdasan anak bangsa marilah halalkan mencuri, hanya semata-mata kepentingan harga diri pengen kaya marilah halalkan kaya dengan segala kreatifitas, karena dien hanyalah bagian dari sejarah dan tatakrama pergaulan semata. daripada miskin menahan lapar, akibat tak mau mencuri atau menurunkan takaran timbangan. akhlak hanya berharga jika sendiri. bergaul tak perlu nilai sendiri karena kenyataannya 'digauli' lebih irit energi dan tak perlu jadi pintar untuk memahaminya. marmotji menunduk malu, jadi manusia yang bisa cuman ngutang sama Gondrong... dan sedikit merasa jengah, menyesali mengapa dahulu sekolah, kalo akhirnya hanya bisa pasrah menunggu siang hari, saat deras tersaji, tontonan kehidupan manusia yang tak bisa bedakan mana ilmu dan mana pengalaman. bukankah jadi Rasul cuman perlu ditunjukkan AlKhalik, sementara jadi ahli wisdom pemasaran harus jual buih mulut dan baca berbagai buku, akhirnya jadi anggota AlQaedah Pengawuran. Abi Dzar terusir karena menentang Kaidah Pengawuran pemerintahan saat hidupnya, sama kan ?. [Gondrong lesu, mau gantung panci atau hendak nyolong bensin agar kompornya tetep nyala...] Pernahkah merasa digauli ? ya itulah sekarang yang marmotji rasakan. |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|



marmotji tak pernah sekali pun, merasa bisa diam begitu saja, waktu Gondrong tak sekedip saja mengerling padanya.

