|
Judul artikel sesungguhnya adalah, Membangun Pemerintahan Yang Kuat
Judul diatas selama ini selalu dipersepsikan berada dalam domain kaum akademisi FISIPOL dan politisi, tetapi setelah melihat kenyataan 20 tahun terakhir, saya berubah cara pikir.
Dalam benak saya sekarang, bila masih ada yang berani berpikir ala makan roti bundar besar, yang diiris menjadi beberapa bagian. jangan-jangan masih hidup di jaman tentara berperang gunakan pedang dan tameng.
Tidak sedang mempersalahkan siapa pun dan tak ingin menimpakan biang penyebab pada satu masalah saja, namun saya ingin menunjukkan betapa keliru selalu menganggap kecil, bermakna tak berdaya dan pemerintahan selalu berarti kuat.
Berdongeng Di masa kecil, saya sering dipaksa masuk dalam lelap, dengan terlebih dahulu mengunyah dongeng. Dari yang ringan-ringan penuh tawa dan tebakan hingga yang berat-berat, sehingga sang pendongeng harus mengulangi epos yang sama keesokan malam. Saat itu, saya cukup terkagum-kagum, berapa banyak cerita dongeng yang menjadi hapalan. Jauh sebelum mengenal cerita dunia perwayangan. Tentu tak paham pula apa makna karakter, kerangka cerita dan pesan yang tersimpan didalamnya. Yang ada hanya kesan, dongeng itu luar biasa, bisa membungkam hingga bertemu dunia mimpi.
Setelah beranjak usia sekolah, dan mengenal pewayangan, kekaguman sudah melintasi wilayah, bagaimana cara sang dalang menghafal berbagai karakter, skenario/kerangka cerita dan bagaimana mentautkan setiap fragmen cerita. Bahkan seolah meneropong dengan satu biji mata melihat Ramayana dan yang lain tertuju pada Superman, saya makin berdecak, bagaimana cara sang penyusun cerita dapat peroleh ide lalu menyajikannya.
Namun setelah masa-masa itu jauh terlewatkan hingga dewasa, ternyata saya terkagum-kagum pada Al Khalik, bagaimana drama milyaran manusia di bumi bulat ini bisa menjadi epos yang tak bisa diwakili dengan nukilan satu kisah saja.
Dasar Dongeng ! Ternyata banyak sumber cerita, banyak ide, banyak nuansa, tapi ternyata kisah-kisah yang tersebar dari mulut ke mulut itu tetap saja tak pernah tertuliskan alias tak tercatat.
Mana ada prestasi, mana pula reputasi. Pokoknya ingin begini, ya sudah dibikin begini saja. Begitu juga sebaliknya, begini dibegitukan, atau sudah gitu dibeginikan.
Bukan Dongeng Prestasi memang perlu dicatatkan, tetapi masalah yang dihadapi lebih perlu dicatat jauh sangat menuntut kecermatan. Masih banyak keraguan pada kelengkapan data, juga validasinya. Bahkan bukan saja pada tingkat kepercayaan pada lembaga penerbit data, tetapi juga sumber daya manusia yang sulit dikenali kemampuannya secara transparan.
Catatan-catatan yang seharusnya rapi dituliskan dan disimpan dalam kerangka pendataan yang rapi masih jauh dari kenyataan. Tekanan budaya yang tabu mencatat kegagalan, karena dianggap bisa sebagai aib orang lain, menyebabkan kegagalan menjejaki dan mengenali seberapa cepat dan luas efek dari sebuah kebijakan.
Pemerintahan Sebuah tatanan masyarakat yang teratur, dan damai sebenarnya bukanlah mimpi, hanya harus diakui, justru membutuhkan pemimpi yang piawai.
Keteraturan dalam masyarakat, membutuhkan pelindung sebagai penyedia rasa aman. Keterlindungan masyarakat bukan saja secara raga namun juga nurani. Keteraturan yang dinamis dalam masyarakat, membutuhkan inspirator yang terus menerus menemukan hal baru sebagai sarana kemakmuran.
Kalaulah yang dapat mewujudkan dan menjawab kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah lembaga yang disebut pemerintahan, maka sebenarnya pemerintahan bukanlah sarang kebijakan semu.
Pemerintahan juga bukan tempat keputusan diambil dengan berbagai pertimbangan yang melindungi dan memberdayakan. Mengapa bisa memerintah ? Karena dianggap bisa menegakkan aturan-aturan yang telah mengakar.
Kekuatan pemerintahan adalah pada banyaknya informasi yang dimiliki, dan bila tak punya hingga pada kadar cukup, apalagi yang akan digunakan sebagai ukuran ? Sumber Bacaan :
1.Kompas.Com
2.Blognya Sijey
3.Republika Online
4.Total.or.id
5.Milis Ohio State
|