| Merengek |
| Monday, 26 May 2008 | |
|
Hayooo...sapa yang ndak pernah melewati masa kanak-kanak ? marmotji pengen tahu bener apa rasanya hidup kalau tiba-tiba masuk masa dewasa ? Tapi benarkah ada yang tak tahu rasanya masa itu di kehidupannya ? Sumpah... yakinilah. pasti ada. Dalam hidup ini tidak ada yang persis antara satu sama lain. Pasti ada. Walau punya, tidak ada yang mirip.Okeeeee...yang ndak punya masa kanak-kanak itu kayak apa ? Ya ndak usah mikir aneh-aneh. Lihat saja tuh Kitab Paling Agung, manual akhlak. Ada sebuah surat yang jelas-jelas tuding siapa yang bermain-dusta. Yang gak peduli ma anak yatim !. Ya jelaslah. Masa Kanak-kanak itu ada, bila ada orang tua didekatnya. Padahal ada yang dah pernah ketemu ma orang tuanya sejak bayi. Kepikir gak tuh. Pengalaman tiap orang gak ada yang sama. Tapi kadang karena mau enaknya masa kanak-kanak itu bakalan terpelihara sampai tua. Hayooo...percaya gak ? marmotji jadi ingat sama almarhum pakde Wardo. dulunya beliau ini rektor sebuah kampus di tengah kota surabaya. waktu beliau masuki usia 52 tahun, bilang sama marmotji. bahwa dia sudah tak cerdas lagi, tetapi diyakini beliau makin bijak. makin bisa mengerti bagaimana menghadapi anak-anak sekecil marmotji. makin bisa memberi nasehat. Waktu itu dia juga bilang, usia tak akan jadi ukuran kapan menjadi bijaksana, tetapi orang pandai semakin banyak belajar, akan semakin cepat menjadi bijak. Karena semakin mengerti banyak rahasia hidup dan firman YANG MAHA KUASA. banyak kan anak muda sekarang, memiliki ketenangan seperti orang tua, dan mampu berpikir jernih dan bertindak tenang. Sewaktu marmotji dengan nakal bertanya pada pakde wardo, berarti para pegawai negeri yang tua-tua itu mustinya makin bijak ya ? beliau terpingkal-pingkal. Ya, mana mungkin. Mereka itu tua dengan pekerjaan itu-itu juga, tetep ndak berubah. Kadang-kadang mereka menjadi acuh seolah tak punya tanggungjawab kerja, dan mengabaikan fungsinya sebagai pegawainya negeri ini. Akibatnya banyak fungsi yang seharusnya diabdikan untuk masyarakat, malah terbalik. Masyarakat yang melayani dan harus menuruti apa maunya mereka. Lhaaaa...apa masyarakat ndak punya mau...? ya jelas punya, kan sama-sama manusia. Tapi karena mereka ndak merasa punya kelas, kehormatan dan harga diri. Akhirnya saat mereka mengungkapkan apa keinginannya, bukan dengan santai, singkat, jelas dan santun menunjukkan apa keinginannya, tapi dengan merengek. Merengek ? Ya kalau anak kecil merengek, gimana sih caranya, pasti dengan ekspresi tidak jelas, suara keras dan mungkin berguling-guling di lantai. Bahkan bisa jadi lama karena ditambahi menangis berlama-lama. Sampai keinginannya dituruti. Karena sudah lebih sekedar anak-anak. Maka merengeknya pakai demo. Lihat saja waktu demo, apa yang mereka tunjukkan kan mirip dengan merengek. Sementara pihak pemerintah, perilakunya seperti para orangtua yang tak memiliki perhatian pada anak-anaknya. Kalau mereka merasa terganggu, bukannya mencoba mendengarkan apa yang diingini anaknya, malah memukuli habis hingga anaknya terdiam. Apa yang sering terjadi sekarang, bukankah yang tersiar dalam berita koran, tivi dan radio tampak seperti itu ? Unjuk rasa, demo atau apa pun sifat tujuannya, tak lebih bermakna seperti merengek bukan ? |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|



Walau punya, tidak ada yang mirip.

