| Merutuk Geram |
| Tuesday, 27 May 2008 | |
|
pernah gak kesiram air panas buat bikin kopi ato teh..? Masya Allah, tobaaat. Apa yang lebih dari rasanya terbakar air begini ? air dari neraka barangkali. Beberapa kali Gondrong tersiram sendiri karena mengantuk, tapi anehnya setelah kesekian kalinya, dia bisa tersenyum. Ini kan cuman jeweran dari Gusti kita ya, tji ? Ampuuun...tobaaat..paaaanaaasss... tapi masih panas yang di neraka ya, tji.. Kalau marmotji yang kena, barangkali sudah segudang, sekotak, satu plastik sumpah serapah. Walau karena kelalaian sendiri, tapi biarin, mantap sih mencaci begitu.... Tapi, aneh...ada juga orang yang bisa menahan diri macam Gondrong ini. apa karena sudah pekerjaannya ya ? Jadi sudah hapal rasanya. Lhah..trus para penghuni neraka itu, apa ya terus karena hapal siksaannya, jadi tenang-tenang aja di neraka. Ammmpuuuuunnnnn..... Kadang-kadang kalau kejadian itu dipindah ke orang lain gimana ya ? Kelalaian kita ditimpakan ke orang lain. Jadi air panas bukan tumpah ke tangan sendiri, tapi ke tangan orang lain. Apa ya bisa, orang itu tenang-tenang aja, memaafkan maklum kelalaian itu. Lalu mendoakan agar tak terjadi kelalaian serupa yang menimpa siapa pun yang terlibat. Apa yang langsung tampar, dan caci dengan sekeranjang sumpah serapah atau malah menendang gerobak usaha si Gondrong ? Wah, bisa macam-macam...namanya juga manusia, dikaruniai akal agar kreatif. Kalau sudah pada puncak marah, apa ya bisa diam. Bodoh sekali tangan tersiram air panas, lalu tersenyum memaafkan. Barangkali kata-kata Gila sudah layak diberikan. Tapi, sungguh. marmotji harus malu saat tahu Rasulullah memaafkan saat rakyat Thaif melemparinya. Padahal Guardian Angel sudah jelas-jelas menawarkan pembalasan setimpal, berupa gunung. Itulah contoh. Gak usah ngomong ideal atau endak, gak urusan. Ini contoh. Titik. Lhaaaa...kalau saat ini semua batok kepala kita dijungkirkan hingga bibir menyentuh kemaluan, oleh seseorang atau sekelompok orang, sementara kita tak berdaya melawan karena memang tidak seimbang, apa sesudahnya hendak memaki-maki, atau memaafkan saja, sambil membasuh rasa terhina kita dengan istighfar ? Barangkali memang sangat-sangat diperlukan belajar sangat dalam dari si Orang Hebat SAW ini. hingga ceruk kemanusiaan kita sudah retak-retak, barangkali perlu ditempuh. Berdoalah, mintalah PADAKU... aku akan mengabulkannya.... hiburlah diri dengan janji SANG PENGUASA PERKASA DAN YANG HAKIKI ini. Terus berikhtiar, dan jangan rakus. Rakus dengan telunjuk. Yang terus menuding, seolah tak pernah dhoif, tak pernah memalukan. Rutuk-Geram itu mari robah menjadi tanaman subur iman, agar orang-tua kita selalu dalam KASIH-SAYANGNYA... seperti marmotji yang selalu merindukan belaian sayang ibu yang tak pernah lagi dirasakannya...sumpah. cinta ibu itu sangat nikmat. Jangan berharap lebih kecuali YANG DIJANJIKANNYA. |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|





