|
Kamar-kamar kost sekitar kamar marmotji senyap, sudah empat hari seperti itu. Marmotji tak terlalu bingung sebetulnya, kecuali biasanya terdengar celetukan-celetukan saat nonton tivi. Katanya mudik, karena sebentar lagi riyaya. Sungkan tak pulang, karena masih ada yang harus di'sungkemi'...
Kenapa dinamai mudik ? kata teman asal katanya adalah udik, yang maksudnya adalah desa. Yah, seperti biasa, dalam cakap sehari-hari, seseorang yang tak paham sesuatu dalam perbincangan, akan serta-merta disebut 'udik lu !'.
Karena kebanyakan yang menjadi tujuan pulang adalah desa atau wilayah yang lebih rendah dari kota asal, jadilah kegiatan pulang-kampung khas lebaran ini disebut mudik. Yah..terserahlah, namanya juga katanya.
Seorang teman, akang Isa-JazzTraffic, saat marmotji numpang berbuka ditempatnya bertugas, sempat bertanya, ini mudik yang mana, yang sedang berlangsung sekarang ?
Byuuuhh...emang ada berapa mudik ya ? mudik rame-rame, mudik gratisan, mudik asal-asalan, mudik konyol, mudik nama, apa lagi yaah...
Ternyata, menurutnya, mudik ada dua, mudik kecil dan mudik besar. Oooh... mudik sendirian, disebut mudik kecil, kalo rame-rame jadinya mudik besar, gitu ?. Eh..ternyata bukan.
Mudik kecil adalah mudik yang sekarang sedang dijalani siapa pun ke desanya, ke tempat asalnya, ke tempat kelahirannya, ke tempat jatidirinya...
Naik sepeda angin, naik motor, naik mobil, naik kereta, naik pesawat... apa pun kendaraannya, apa pun pengorbanannya, bagaimana pun rumitnya pengaturan pemerintah, hingga terpaksa diatur bak sebuah perang, gunakan H-7(hamin-tujuh) hingga H-1(hamin-satu) benar-benar diamati. Semua tim pengamanan digerakkan, seluruh fasilitas perjalanan dipelajari, masih adakah masalah...
Ada yang cukup tempuh perjalanan sebentar, atau bahkan berjam-jam, sehingga terpaksa berhenti di beberapa tempat. Ada yang harus melalui perjalanan dengan bus, lalu gunakan ojek. ada yang pakai pesawat terbang karena saking jauhnya perjalanan menuju kampung halaman.
Dekat-jauh, murah-mahal, singkat-lama, sebuah perjalanan mudik, dikategorikan sebagai mudik kecil, karena hanya terjadi perpindahan fisik dari satu asal ke tujuan.
Dengan satu alasan, bersilaturahmi dengan leluhur dan tetua di kampung, memohon ampun, sungkem, dan menuntaskan lelah rohani pada situasi awal, saat dahulu berangkat 'merantau'.
Lalu, gimana dengan mudik besar ?
Mudik besar adalah perpindahan keseluruhan wujud pada bentuk yang dituntunkan ad Dien. Mudik Besar prosesnya tak secepat dan semudah Mudik Kecil, heh... sebesar apa susahnya ?
Mudik Besar, adalah upaya mengembalikan status seseorang pada awalnya yang bersih.
Mudik Besar yang luar biasa !, memohon ampunan, menghimpun perkenan, bukan dari sesama manusia, tetapi pada Sang Pencipta.
Proses mudik yang tak dapat ditempuh dalam hitungan waktu sesaat saja. Pemenangan cara pulang yang tak bisa sebentar. Godaan begitu besar dalam Ramadhan yang tak cukup sekali, dan makin berat dalam jenjangnya, seperti pepatah, makin tinggi pohon makin deru angin menerpa.
Mudik Besar, adalah perjalanan vertikal, bukan perjalanan horizontal di muka bumi, yang sejauh apa pun pasti dapat tercapai. Mengarungi lapis demi lapis langit, berkendara amalan dan pengabdian tak kenal putus...
Kang Isa bertanya pada marmotji, sudahkah kita mencicil untuk mudik besar ini, yang perhentiannya entah tak pernah tepat, tak seperti mudik kecil. Perjalanan mudik kecil, semahal apa pun, pasti dapat diangsur, ditabung, dengan batas harga yang diketahui...
Bukankah kita rindu pada SenyumNya, RahmatNya, dan akhirnya tersabdakan ... Masuklah kamu ke surgaKu dengan rahmatKu...
Owh.... Ide Tulisan : H. Isa Anshari, Jazz Traffic Announcer, Suara Surabaya
|