|
Pardi terkulai lemas, minggu ketiga bulan Juli 2008, anaknya sudah harus duduk di kelas tiga SMK Tunjek-Makmur. Mustinyaaaa.... Tapi karena apes, kata Pardi, anaknya barangkali harus pasrah kehilangan kesempatan itu.
Pardi, tersenyum kecut, merasa hidupnya sia-sia jadi tukang sayur selama ini. Berjuang demi hidup anak dan istri, ternyata sia-sia. Sebenarnya gak sia-sia, benernyaaaa... tapi yah mau gimana lagi, marmotji ndak punya pilihan kata-kata yang pas buat nge-hibur dia.
Pardi ini sudah 8 tahun jadi tukang sayur di perumahan mewah dekat warung Gondrong, tiap shubuh sudah stand-by, menyerbu masuk, jika portal masuk perumahan di buka. Langganannya sudah siap menanti di kegelapan shubuh itu, dengan daftar pesanan besok, dan barang pesanan hari ini. Hubungan mesra gak bisa dibangun dalam waktu pendek, dan rasanya percuma kalo ternyata dunia terasa hilang pijakan kayak begini. Begitu Pardi, nanar tatapan matanya...
Gimana ndak pusing dan gelap, anak pertamanya, yang mustinya sudah bisa jadi andalan setahun-dua mendatang, tiba-tiba tawuran di dalam kelas. Dan ujung-ujungnya bersama 12 teman sekelasnya, sudah pindah tempat ke dalam tahanan sebuah polsek di pojok sebuah kecamatan yang terpencil. Pihak sekolah ndak mau tanggungjawab, pokoknya pecat alias siswa dikeluarkan. Pardi tambah pusing, ketika masalah pindah sekolah sejenis, paling sedikit makan duit dua juta rupiah, gak tau duit cetakan foto siapa tuh. Belum urusan macam-macam, yang sepintas kata Pardi, mirip baru masuk sekolah kelas satu.
Ada kalimat yang terus diingat oleh Pardi yang jadi alasan sekolah-sekolah itu, mana bisa mendidik anak orang miskin yang tata krama aja ndak tahu dari mana asalnya...
Whalah...sejak kapan urusan tata-krama dikembalikan pada orang-orang seperti Pardi, yang berpikir justru sekolahan adalah tempat terhormat, agar anaknya menjadi orang yang lebih terdidik dari dirinya. Kog malah ada omongan kayak gitu. Apa mau dibilang, Pardi juga gak tahu siapa tepatnya yang ngomong begitu, pangkatnya Kepala Sekolah atawa cuman Tukang Kebon Sekolah.
marmotji menjadi malu, merasa pernah sekolah. Harus diakui, sekolah adalah tempat penyesatan. Tempat banyak anak-anak muda jadi keblinger, menjadi merasa lebih tahu dalam kegelapan, padahal cuman pegang pucuk korek sebatang. Bahkan ada sekolah, yang bisa mengajarkan bahwa semua siswanya adalah sekelompok manusia yang jauh lebih berkelas, lebih terhormat dari manusia-manusia yang berceceran disekitar, hanya sekedar karena mereka pergi sekolah tak perlu berpeluh.
Sekolah kita ini mustinya harus dibumi-hanguskan, dibakar habis. Ndak perlu ada sekolah sebiji pun, kalo hasilnya lebih buaaanyyyaaaak hasilkan orang-orang sombong. Biar saja guru-guru itu menganggur, toh mereka sudah dewasa, sudah tahu bagaimana cara hidup lainnya. Daripada harus racuni anak-anak belia-usia, bersikap hidup ngawur dari awal.
marmotji mah gampang alasannya yang paling nalar, emang ada guru yang bisa ajarkan dengan senyum menenangkan dan mengawali pelajarannya dengan kata....wahai anak-anakku, masa depan kehidupan... Gitu kog butuh pendidikan yang partisipatif... dari langeeeet ? yang ada ya parti-si-pucat-pasi ! Orang sudah susah dibikin mainan... gara-gara kasus Pardi ini, marmotji curiga, jangan-jangan masih banyak yang ndak berani cerita, karena malu barang susah kog diceritakan.
|