| Pemasar Pasaran |
| Thursday, 17 July 2008 | |
|
Adakah yang masih melihat wanita-wanita tua yang bawa barang bertelekan kepala alias 'disunggi' ? Adakah sering bertemua wanita usia sepuh bawa bakul bergamit kain di punggung ? Entahlah. Apa mau disebut sebagai gaya lama berjualan, atau itu tradisi yang laik dijaga. Bergantung dari sisi pemasar yang mana, tul gak ? Sisi kemanusiaan yang membebaskan siapa pun berjualan apa pun yang bisa disediakannya, dikriyakannya, barangkali boleh saja biarkannya berjalan berkeliling, sebagai hiasan eksotisme, bahasa pemasar turisme. Pemasar gaya hidup kesombongan, bisa jadi berbeda. Tak boleh ada orang berpendapatan jauh dibawahnya berada didekatnya. Parfum alami produk ketiak, tak boleh sedikit pun tercium. Harus menjauh. Pemasar apakah ini ? ala modernisme atau anti-humanika ? Menjala pembeli di kedalaman sungai tak sama dengan memilah peminat diarus selat yang lirih menghanyutkan. Kelugasan berpikir ala seorang pesohor, dianggap sama-sama sejajar dengan keterikatan emosi seorang pemimpin atau pengajar. Seorang pemasar bak seorang pengajar, laiknya memiliki satu ukuran tatakrama perilaku, bukan sekadar penampilan baju, sepatu dan kendaraan semata. Bagaimana bila yang dijualnya adalah harkat kewanitaan yang tak ada dalam bakul atau dijunjung diatas kepala ? Tapi apa yang kita lihat di luasan mata memandang saat ini, banyak yang berusaha sembunyi atas nama pasar, tentu menjual dan memikat. Entahlah, mana seharusnya mendahului. Akhlak pemasaran adalah naif, atau barangkali haram bagi para pemasar. Karena targetlah sesembahan mereka. Mau bukti, silakan lihat dulu agenda masing-masing... Jangan-jangan butuh parfum murahan agar mampu menculik sorot perhatian pasar. |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|





