| Perca Harga Diri |
| Monday, 12 May 2008 | |
|
Hai Tuan Doktor, ya kamu ! yang merasa dirimu paling tahu atas ilmu yang kau pilih !. Apa yang sudah kau perbuat dengan ilmu kamu ? Aku tak butuh duit recehmu ! Aku butuh ilmu kamu ! pamerkan padaku ! seberapa pantas kamu jadi penyandang gelaran Doktor ? Kalau kamu masih tersedu-sedan, meratap kesulitan, dan ingin diakui bak anak kecil kemaren sore yang tak mahir mengisap keluarkan ingus...kamu hanya bak belalang... tak pantas aku lihat jidatmu ! Aku tak peduli dimana rumah kamu, wahai tuan Doktor! tak butuh catatan seberapa banyak dan luas pengetahuanmu Dalam alam pikirku, Doktor macam kau tak beda dengan seekor kuda, yang mencibir hewan-hewan lain yang tak sepandai dirinya Aku tahu, gelaran Doktormu diperoleh dengan segala perjuangan, habiskan segala-galanya...tak apa perlunya cerita itu kini, hah ? Jangan pikir dirimu bak para tokoh ilmuwan dunia, karena kau tak pernah beri contoh padaku...!!! Aku cari contoh manusia yang bisa mengais hidup dengan tangannya sendiri. Dengan bekerja berdaki keringat ! bukan mengemis. Aku tahu, tuan Doktor ! mengemis pun juga bekerja, karena tangan pun juga dipakai. Dengan menengadah dan mimik memelas. Bukan itu. Dungu sekali jika Tuan Doktor berpikir seperti itu. Lihat mahasiswa-mahasiswamu yang mengembik mengemis. Apa dapat contoh dari kamu ? Kalau Tuan Doktor sempat saja berpikir seperti itu, rasanya aku harus berpikir cara bermimik paling jijik padamu. Tuan Doktor, aku ingin tahu, bagaimana Tuan Doktor beri contoh pada aku; Bekerja dengan terhormat Bekerja dengan hati bersujud Bekerja dengan cinta nurani Bekerja dengan rasa bangga Hoi Tuan Doktor ! kau sama sekali tak pantas melengos. Karena kamu adalah manusia yang tak banyak disini Jangan sekali-sekali kau merasa bisa lakukan, bahkan dalam hati. Disini sedang butuh contoh otak dan hati dan, kamu, Tuan Doktor... yang sedang aku tunggu mencontohkannya. Dan jangan pernah kamu berpikir kamu hanyalah rakyat kebanyakan. Artinya otakmu masih mengkeret, perlu dipanggang sehingga mekar kayak krupuk ! Jangan kamu kira, dengan gelaran Doktor-mu kamu sudah bisa sesuka hati Pikirkanlah, bahwa makin kamu pernah terlintas bahwa kamu bisa maka akan berarti, dirimu hanyalah sebuah robekan perca punya gelar, tapi tak lebih dari seonggok perca berharga jika memang diperlukan, bila tidak, ditoleh pun tak Kepandaian yang berarti, hanyalah bila diabdikan. Jika sebaliknya kau lakoni, lihatlah nanti balasannya pada anakmu... Aku yakini itu...karena sudah banyak contoh tercecer Daaan, Tuan Doktor, jangan sekali-sekali menambah contoh buruk itu. |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|



Kalau kamu masih tersedu-sedan, meratap kesulitan, dan ingin diakui bak anak kecil kemaren sore yang tak mahir mengisap keluarkan ingus...

