| Ranah Militansi |
| Thursday, 16 October 2008 | |
|
Perjuangan seolah identik dengan persepsi pertempuran, pertumpahan darah, jatuh-bangun, penderitaan yang menguras fisik, berkesan patriotik peluh, lenguh-sengal, dan sepertinya tak sempat mikir bertindak cerdik. Lhah..mana sempat mikir, keburu ketabok mortir kan ? Ya kalo bisa, sambil gerak, ya sekalian mikir... ada sebuah nilai kecerdasan kan ? Yaaa..macam Rambo kan pasti seorang yang cerdas, cepat berpikir, taktis, lincah.. karenanya dia layak menjadi panutan, contoh, bahkan sebuah sumbu semangat bagi para pengikutnya...Jadilah dia patron, seorang model yang bisa diimitasi. Mulai gaya berpakaian, gaya sehari-hari atau kata-kata celetuknya yang jadi magnet kebijakan dimata para pengagumnya... Cari sendiri aja contoh lainnya... Satu saat ketika sedang bergabung dalam sebuah acara broadcasting, seorang kawan berbisik, 'tak bakal broadcaster ini bisa bertahan tanpa militansi orang-orang terbaiknya...' Heuleh ! Militansi gaya apa lagi ? Yah, pertempuran tak pernah berhenti sedetik pun. Butuh ribuan patriot setiap detik yang siap hancur-lebur. Dibanding pertempuran yang pake mesiu, yang satu ini modalnya apa ? Yah, tetap saja sama. Sebuah perkelahian hidup dan mati, awalnya adalah berbekal keyakinan, kepercayaan, sebuah komitmen pada kepastian. Pertempuran masa kini ? iyalah... sebuah keyakinan, akan datangnya perubahan, kepercayaan hadirnya secercah cahaya kemajuan, sebuah janji pengorbanan yang akan terbayar saat usai.. entah berakhir dengan kematian atau saat pamungkas. Wehh..pamungkas.. iya.. terakhirrr...kayak difilem-filem itu... pelakonnya tersisa hanya beberapa gelintir saja. Banyak loh jagoan-idola masa kini, cuman sayangnya, memang mereka bukan bertampang pelakon yang berkulit licin dan murah senyum saat dijepret kilatan blitz. Tak ada kesan arogan atau percaya diri. Barangkali malah di negeri ini, ndak terkesan punya kehormatan yang pantas. Mereka ini bahkan ada yang habis memudar tanpa dikenal apa yang sedang diperjuangkan, sehingga terkesan sia-sia, kalo segan dibilang gagal. Contohnya ? ya macam tokoh ludruk garingan, Markeso. Haree genee..sapa yang bisa dapetin recordingnya ? pake mp3? boro-boro ngomongin mp6, kalo dapet pun tampangnya pasti jadul... Pertempuran yang mungkin lebih berdarah-darah dari peperangan mesiu... adu kecerdikan atau adu kelicikan... entahlah.. tetapi semuanya akan bisa disebut militansi. Sebuah kesetiaan. Sebuah kegiatan berjalan dengan senyum bahagia, tanpa lara dan peluh. Tapi menguras kekokohan, kekuatan dan keteguhan. Semua pekerjaan pasti punya ciri militannya, yang bisa dicontoh bahkan telah menjadi patron atau template, disebut bapak, boss, babe, juragan, sahabat, teman, sobat dan guru... Tapi yang sedang 'benar' jangan pongah, karena yang 'salah' pun tetap punya pengikut. Saat Sri Sultan Hamengkubuwono ke IX telah berpihak pada Republiken pun, masih ada kaum 'biru' yang mati-matian secara militan berpihak pada tuan Londo. Kaum ningrat ini mampu mewariskan pada kaum tertentu jaman sekarang, dengan bertahan di ranah tertentu, yang tak bakal bisa dicapai oleh kaum yang dipandang dibawahnya. Mereka sedang 'lupa', masih banyak 'Jaka-Tingkir' yang militan, tanpa perlu berada di tataran kebangsawanan gelar akademiknya pun cukup berjasa bagi masyarakat luas. Yah... masih ada kog, profesor yang mati-matian bekerja di lingkungan sosial yang muak padanya demi kehormatan akademis... marmotji mah gampang saja tunjuk hidung... asal terbuka tanpa prasangka... itu juga militansi luar biasa loh. Berjuang kalo ternyata 'salah' ya ndak pa pa, dari pada bengong, blaaas ndak berbuat... Hanya militansi yang bisa dibikin... tanpa banyak anggaran, cukup banyak ludah dan kemauan mendengar.... Saat telah berhitung hari-hari berselang tahun, 28 Oktober, hanyalah catatan kaum sejarah-wan, dan politik-wan-wati... suka-suka pake istilah bukan... ndak boleh asal melarang... kayak paling bisa bener aja.. Toh tetep ngerti kan ? mengapa ber'satu', harus bermakna kesamaan ? kan tetep butuh militansi agar sadar pertempuran ini demi melawan kebodohan abadi...seperti tololnya mempertahankan gelar tanpa manfaat... hemh... Catatan : Tulisan ini adalah ungkapan rasa hormat dan rasa duka, atas telah berpulangnya bapak Kosasih Iskandarsjah, Jumat, 10 Oktober 2008, di Bogor |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|





