| Saat Berbagi |
| Tuesday, 06 May 2008 | |
|
Seorang manajer sukses dan berpengaruh dalam briefingnya pernah ceritakan sebuah kisah bijak tentang seseorang yang dermawan dan saleh. Kayaknya berusaha kaitkan kefakiran, kekafiran, kaya dan kebijakan dalam sebuah lingkaran yang tak terputus. yah, semacam himbauan tersembunyi, bahwa seorang fakir belum tentu tak bijak, dan seorang kaya tak bisa dengan mudah jadi kafir yang sangat bengis. Kisah bijak ini tak berasal dari sebuah keyakinan tetapi dari sebuah buku hasil ketekunan perenungan seseorang filsuf berabad lalu. Tetapi nyata sekali saat-saat sekarang, cerita itu seolah kejadian yang mudah berulang. Apalagi jika kefakiran atau kekayaannya masih tanggung, belum mencapai titik puncak tertinggi. Karena sebenarnya ujung dari keempat keadaan itu adalah sama, kemampuan mengendalikan diri. Siapa yang tak tahu, kefakiran adalah puncak kemiskinan. Siapa pula yang tak maklum, kedermawanan adalah puncak kekayaan. Betapa banyak ditemui, si miskin dengan percaya diri berkacak pinggang bak si kaya. Berapa banyak diketahui, si kaya menghiba-hiba seolah dirinya tak memiliki apa-apa lagi, sehingga lupa harus berderma. Mengapa bisa terjadi...? Adakah salah makan atau minum sehingga keduanya lupa berbagi ? keduanya memiliki ilmu yang seharusnya bisa menjadi danau bertaqarub pada SANG PEMILIK RUH. Keseimbangan tempat mampir bernama dunia, bak angka kemungkinan yang hanya berjalan antara angka nol dan angka satu. Bila air terkotori sehingga najis untuk bersuci, segera tergantikan oleh yang jatuh dari langit. Bila tak ada beras, masih ada pilihan umbi-umbian atau jagung. Tapi kini seolah semuanya raib dalam pandangan. Tak ada karena duit tak ada. Benarkah ? Bukan pengetahuan menemukan semua pangan, air dan segalanya telah dianugerahkan. Mengapa pula harus ketakutan akan segala yang pernah diciptakanNYA. Seharusnyalah berbagi diawal dengan kembali meletakkan sejarah Adam saat diajarkan segala pengetahuan manusia. Ya..berbagi pengetahuan, bukan sekedar membaca, mencaci dan tak pernah melengkapkannya. Bukankah rasa malu mengemis juga karena adanya ada pengetahuan tentang rasa malu. Si Kaya malu bila tak mampu membagi harta titipan. Si Fakir malu bila tak mampu tutupi diri dengan kemampuan mengunjuk sabar. Siapa bilang kesempatan berbagi hanya dimiliki sebagian orang saja ? Mari mencari saat berbagi terbaik, bukankah pasti mendapat bagian waktu untuk berpisah dengan dunia. Sehingga tak ada kefakiran rasa malu menyuruh si fakir teriak-teriak tak senonoh. Sehingga tak ada kekayaan rasa angkuh membuat si kaya seenak-udel memamerkan apa pun yang dirasa akan dimiliki selamanya. Bisa pastikan tidak, bahwa mereka tak tahu. Bagilah pengetahuan karenanya. Agar tak ada angkuh yang memalukan, atau malu yang bikin keangkuhan membubung. Inilah saat berbagi... |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|





