| Usaha Rolet |
| Monday, 03 November 2008 | |
Saat berusaha, selalu ada kekhawatiran yang mengundang bertingkat kewaspadaan pada orang yang berbeda. Cuman sayangnya yang namanya berusaha, mendapat pemahaman yang berbeda.Seorang petani berusaha, tentu dianggap tak sama dengan usaha seorang siswa sekolah, apalagi dengan seorang calon pegawai. Terlebih seorang yang melamar menjadi pegawai negeri, tentu berbeda sekali dengan pegawai swasta. Belum lagi bekerja, anggapan di sekitarnya sudah berubah, repotnya jika si calon pegawai negeri sudah merasa telah bekerja. Waduh...kasihan. Usaha seseorang yang berjualan potongan tempe, tentu berbeda dengan usaha rekannya yang berjualan kedelai. Semuanya berusaha, walau beda dalam gambaran angan-angan, tetapi ada kesamaan, ingin sebuah hasil yang muncul dari usahanya itu. Dapat ? ah, entahlah, pasti jawabannya adalah bergantung pada kuatnya niat berusaha. Sebuah ketidakpastian pada niat, begitu lemah atau sangat kuat. Berbagai diskusi enteng-entengan hingga diskusi yang pamer kuat tarik urat leher, berdebat, mempertaruhkan berbagai alasan, agar pendapatnyalah yang tampak paling benar. Dari alasan utak-atik, sampai mengutip pendapat pakar, entah berbahasa asing atau dari negeri sendiri. Sebenarnya untuk siapa, semua usaha itu ? Bolehlah yang sederhana diberikan, yah apalagi kalau tidak untuk bertahan hidup. Sekedar sesuap nasi. Lalu sekayuh perjalanan. Kemudian seatap tempat berteduh. Kalau masih berlebih, barangkali terpikir untuk menggandakan yang telah dimiliki. Lalu ? Terpikirkan sesuatu yang remeh, tapi untuk melengkapi usahanya. Yaa..macam-macam. Tebak sendiri, masak harus marmotji tuliskan. Tapi kalau usaha tak lagi dapat meluas, karena terpapar usaha orang lain, gimana ? Maksudnya apa sih, mana ada usaha sendiri harus bersinggungan dengan usaha orang lain ? Lihat aja, banyak berjejer di depan toko orang lain tuh, usaha-usaha yang lebih kecil. Entah usaha eceran, kayak permen, tisu, atau dominasi rokok, yang katanya mulai dibatasi arah larinya asap. Atau usaha pengangkutan barang, kayak teman marmotji, yang tiap subuh mampir ke warung Gondrong hanya sekedar berbagi cerita atau ngopi mengusir kantuk. Dia pernah terkena usaha penarikan retribusi setiap pagi yang ternyata disebut liar, tapi apa ya bisa menolak tak bayar, ketimbang tutup terpal harus sobek ? Toh cuman beberapa ribu. Haramkah ? ah, biarin, ikhlaskan aja. Hidup ini kan kayak rolet, muter terus, kan ndak mesti dapat yang dipingini. Rolet ? Kog tahu rolet. Disini kan tak ada judi macam itu. Ya..dari filem-filem di tivi. Diputer dan berhenti. Semua usaha sekeras apa pun, tetap saja berakhir dengan ketidakpastian hasil. Kalau dapatnya hasil seperti harapan, ya seneng. Lha kalau sebaliknya, ya udah, nyantai saja, walau kecewa, daripada nangis-nangis, toh hasilnya dah didapat, ndak bisa dirobah. Kalo gitu enak usaha rolet aja, bisa permainkan nasib orang lain. Memaksa orang lain mengemis-ngemis hasil seperti yang dia harapkan. Wah.. ya ndak bener.... Apanya ndak bener, masih banyak orang seperti itu kog, wong jelas-jelas ndak pasti aja, orang selalu paksakan hasil seperti yang diinginkan kog. Halal kan ? mereka ikhlas dan suka kalau bisa dipenuhi. Wah..itu kan syirik, menyamai peran Tuhan Yang Maha Menentukan. Lhoh..ya endak tho, sama-sama lega kan ? dia lega, kita pun lega, karena dapat uang. Jangan ikut-ikutkan Tuhan dong, inikan urusan hidup. Lha terus, yang bikin kita bisa hidup siapa ? Yaaa....Rolet ! catatan : ingin lebih tahu tentang rolette ? Buka disini |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|
Saat berusaha, selalu ada kekhawatiran yang mengundang bertingkat kewaspadaan pada orang yang berbeda. Cuman sayangnya yang namanya berusaha, mendapat pemahaman yang berbeda.


