|
Bulan Ramadhan tahun ini, benar-benar bulan yang diimpi-impikan marmotji, sejak mengenal kewajiban puasa. Marmotji jadi teringat dengan almarhum bu Is, yang dahulu paling sibuk bangunkan sahur. Beliau dengan senyum keibuannya yang memikat, satu-persatu membangunkan santri-santri kecilnya, sambil tak lupa mencubit merah bila si santri tetap saja menutupkan sarung ke kepala.
Sambil bangunkan, beliau kadang berbisik lirih, Thole, Nduk, waktumu menyayangi saudara-saudaramu lebih sekarang, masak ya...
Santri-santri yang sebelumnya tak pernah memasak, menjadi agak tahu bagaimana memasak. Mana mungkin sejam memasak, bisa jadikan suguhan nikmat untuk 40 orang lebih santri. Mangkanya, Bu Is, selalu membubuhkan kata 'menyayangi' sebagai dorongan memasak dengan cepat tapi nikmat.
Terkadang santri bingung, di tungku tanah liat, hanya ada 3 kuali besar untuk memasak. Belum cuci beras, sudah bingung duluan, masak apa ya, jika cuman ada sayuran. Mau bikin pecel pun, tak ada kacang-tanah. Mau masak lodeh, tak ada kelapa untuk santan.
Beruntung jika ada kiriman tahu, tempe atau mie, mungkin tak terlalu pusing, walau tak selalu ada bersamaan. Pernah pula ada kiriman beberapa ekor bebek, tapi ternyata tak diijinkan untuk disembelih. Kata Bu Is, diambil telornya kan lebih bermanfaat.
Akhirnya memang kreatifitas dari santrilah yang menentukan citarasa setiap sahur. Bila cuman ada sayuran, maka biasanya sayur dipotong panjang-panjang lalu digulung-gulung, dan dibentuk melingkar seperti layaknya martabak. Begitulah terus dibuat, hingga cukup untuk semua santri dan Bu Is. Sayur gulung, begitu Bu is menamainya. Memasaknya tentu tak lebih lama dari memasak nasi.
Agar para santri tak kehilangan selera sahur, biasanya Bu Is sebagai pendekar koki dadakan ini, segera turun tangan. Beliau membuat adonan bumbu dari simpanan terasi yang selalu ada, sebagai penyedap akhir masakan.
marmotji masih ingat saat ada kiriman beberapa bungkus mie dari orangtua santri. Bu Is, sungguh luar biasa untuk menciptakan masakan yang bisa dinikmati semua. Beliau ciptakan sebuah masakan campuran antara nasi, sayur dan mie. Sehingga kami memakannya tanpa perlu lagi berebut menciduk. Kata beliau, inilah pan nasi, sayur dan mie, yang tak akan ada di tempat-tempat lain, vegetamia, mungkin lebih enak menyebutnya begitu ya. Jadi kami bisa dijuluki sebagai vegetamian, karena saking seringnya makan menu masakan ini.
Sayangnya, marmotji tak sempat mengantar seorang ibu yang begitu tenang membimbing para santri tanpa suara melengking ke tempat peristirahatan terakhirnya. Sebuah cara mengajar tanpa banyak berbicara. Tanpa bentak, tanpa hentak, tanpa sentak. Bagaimana hidup bersama, berbagi, bertindak bersama sambil terus bersyukur. Tak perlu mengeluh dengan apa yang sudah dimiliki.
Beliau tak pernah jelaskan, bagaimana para santri harus bertindak seperti dalam kalimat: Yang lebih tua membimbing yang muda. Yang lebih tahu contohkan pada yang belum.
Seingat marmotji, beliau tak pernah berkata hussh, jangan, ndak boleh, ndak pantes atau apa pun ekspresi larangan pada para santrinya.
Andai saja marmotji bisa mencontoh cara beliau mengajar, kelak saat kesempatan itu datang...
Bu Is, Ramadhan tahun ini kami mengenangmu, seperti halnya pada ibu-bapak kami yang telah mendahului...
Kadang mengajar ternyata lebih tandas dengan senyum dan tawa, betul gak seh ? Catatan : Terimakasih pada Mas Isa Ansori, JazzTraffic-SuaraSurabaya FM Announcer, pencetus ide nama Vegetamian.
|