| Menimbang penerapan Six-Sigma |
| Ditulis Oleh: dayaolahwarta | |
| Monday, 03 November 2008 | |
Berbagi.NET. Seberapa besar kini, ketertarikan tentang six sigma ? Semestinya penerapan six sigma sudah menjadi kebutuhan. Pada awalnya, six Sigma dibentuk sebagai sebuah upaya mengatur proses manufaktur yang efektif dan mampu memenuhi kualitas dalam jumlah produksi besar, dengan tingkat kerusakan yang sangat kecil, bukankah perusahaan menjadi sangat beruntung.Namun kini, six sigma telah meluas batas, jasa pun selayaknya manufaktur, adalah proses yang teratur, yang dapat dijejaki letak kecacatannya. Perbaikan kualitas akan selalu dapat dikenali oleh perusahaan sebagai peluang peningkatan pendapatan dan niat baiknya untuk tetap bertahan serta maju. Alat kendali kualitas, seperti TQM dan QC juga telah meluas dimanfaatkan, namun barangkali six sigma lebih mengundang perhatian, karena titik tekannya pada kepuasan pelanggan sebagai garis akhir perjalanan sebuah produk. Produktifitas bukanlah semata-mata catatan numerik jumlahan produk, tetapi juga melihat adakah kekecewaan yang bakal timbul bila ternyata produk tak dapat mencapai target kepuasan yang ada dalam benak penggunanya. Dan kendalinya berada pada kepemimpinan yang mampu memberikan deskripsi dan dukungan pada usaha pencapaiannya. Kepemimpinan yang mampu meletakkan landasan pengelolaan kualitas bersama orang-orang yang telah menyandang Black-Belt. Kepemimpinan yang sangat paham fungsi dan peran statistik dalam prosesnya. Beberapa dukungan statistik seperti ANOVA, uji kai-kuadrat adalah beberapa yang telah terbukti mampu untuk pencapaian kualitas yang diharapkan secara manajemen. Sementara pemahaman korelasi agar tidak terjadi kecacatan dan Bagan Pareto untuk mengetahui asal kecacatan, telah dikenal sebagai kendali produksi sejak awal. Kuatnya pemahaman statistik dalam pengelolaan terapan six sigma sebaiknya telah dipertimbangkan dalam berbagai lahan industri, baik jasa maupun manufaktur, semoga. |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|






