| Meta-analysis dalam Riset Kependidikan |
| Wednesday, 20 August 2008 | |
Banyaknya beda dalam berbagai penelitian/pengamatan, seperti cara
perlakuan/tindakan, penentuan cara pengukuran, peralatan yang digunakan
juga metode yang dipakai, telah memunculkan kesulitan untuk
membandingkan.Juga ada yang mencoba berkali-kali mengulang metode, dan akhirnya dapat membuktikan kebenarannya. Meta-analysis adalah sekumpulan teknik sistematis untuk memecahkan kontradiksi yang berlawanan dalam hasil riset. Meta-analysis menterjemahkan berbagai hasil dari berbagai pengamatan ke dalam pengukuran yang lazim dikenal dan secara statistik meng-eksplorasi hubungan antara karakteristik dan hasil temuan. Meta-analysis sebagai metode riset Yang pertama menggunakan istilah meta-analysis adalah Gene Glass di tahun 1976, sebagai tinjauan filosofis, belum sebagai suatu teknik statistik. Glass menyampaikan bahwa saat mengulas pengetahuan dalam literatur haruslah sistematis sebagaimana sebuah riset primer dan harus dapat dihubungkan dengan hasil pengamatan yang lain, terutama dari sisi karakteristik dan keteracakan. Sejak saat itu, meta-analysis mulai dikenal luas sebagai alat riset, melampaui berbagai prosedur yang terpakai di banyak disiplin ilmu. Dalam catatan ERIC saja dikenali lebih dari 800 artikel yang memanfaatkan atau mendiskusikan meta-analysis, setelah tahun 1980. Meta-analysis menjawab berbagai masalah dalam riset kependidikan. Pertama, tentang hal-hal penting kependidikan yang diamati oleh banyak pengamat. Terkadang, informasi yang diperoleh dari begitu banyaknya pengamatan sangat membingungkan dan tidak mudah untuk dipahami secara ringkas. Dalam satu topik yang telah melalui beberapa pengamatan sekali pun, ternyata sulit ditentukan apakah hasil berbeda yang diperoleh karena perubahan atribut, atau karena ketidakcukupan metode, atau karena perbedaan sistematika. Belum lagi akibat penjelasan/narasi yang dapat menciptakan bias hasil pengamatan. Bias ini adalah efek tak mudah diketahui, sehingga menuntut para penyusun laporan pengamatan agar menyediakan berbagai informasi pelengkap, sehingga para pembaca mampu memahami dengan benar. Meta-analysis memiliki langkah yang serupa dengan riset primer. Para pelakunya, pada langkah awalnya akan menetapkan kegunaan pengamatan, menyusun kerangka pengamatan yang secara praktis atau secara teoritis menyusun pertanyaan-pertanyaan yang berada dalam lingkup pengamatan. Kejelasan kaitan kerangka pertanyaan haruslah dapat menjadi arahan pengamatan dan cara pengumpulan data. Kedua, pemilihan sampel yang terdiri dari pemakaian beberapa prosedur tertentu, agar dapat menemukan hasil yang memenuhi kriteria. Meta-analysis adalah pengamatan komprehensif pada populasi penuh. Ketiga, data terkumpul dengan dua cara. Ada yang dikodekan menurut tujuan pengamatan dan teruji validitasnya. Hasilnya ditransformasikan dengan ukuran yang lazim dikenal, sehingga dapat dibandingkan dengan hasil pengamatan lainnya. Dalam kasus riset kependidikan, ukuran yang digunakan secara umum/lazim adalah besaran efek/akibat, beda terstandarisasi antara perlakuan(treatment) dan nilai tengah kelompok pembanding (control group). Akhirnya prosedur-prosedur secara statistik digunakan untuk menemukan hubungan-hubungan dalam karakteristik dan temuan yang didapat. Dua kelompok kritik terhadap meta-analysis, pertama,mengaburkan makna informasi kualitatif yang penting dengan me'rata-rata'kan sajian numerik sederhana dalam lintas-studi. Kedua, penjelasan riset hanya dapat dijelaskan oleh seorang ahli yang dapat mencermati berbagai informasi yang membingungkan dari obyek pengamatan. |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|


Banyaknya beda dalam berbagai penelitian/pengamatan, seperti cara
perlakuan/tindakan, penentuan cara pengukuran, peralatan yang digunakan
juga metode yang dipakai, telah memunculkan kesulitan untuk
membandingkan.


