berbagi.net in metamorph
Muka arrow Artikel arrow BerbagiTilik arrow UngkapTulisan arrow Budaya Statistik, siapa yang punya ?
Thursday, 08 January 2009
 
 
Stat-Ethics
Berbagi.NET
Alert2YourEmail
Gabung ke Milis
1.Milis Berbagi.NET

(Statistik/Psikologi)
2. Milis Parameter
Alumni-Stat ITS
-------------
Penjelasan
Budaya Statistik, siapa yang punya ?
Ditulis Oleh: Tim Artikel Statistik Berbagi.NET   
Thursday, 18 September 2008

ImagePencatatan, aktifitas yang melelahkan, siapa pun pasti mengakui.
Dari seorang siswa SD hingga seorang CEO perusahaan terkemuka, pastilah menghela napas panjang bila sudah mendengar kata 'catat'.
Bila mencari jawaban mengapa semua menjadi enggan lakukan pencatatan, alasan-alasan yang diberikan bisa beraneka.
Dari sekedar jawaban ringan karena malas, hingga jawaban panjang yang disimpulkan sebagai pemborosan.


Pencatatan harus diakui memiliki kegunaan, bukan sekedar kegiatan yang berlangsung hanya karena 'musti' ada. Kegiatan yang tampaknya paling banyak membutuhkan pencatatan adalah dalam lingkup kesehatan.
Seseorang yang datang ke tempat praktek dokter atau PUSKESMAS, setidaknya dicatat informasi nama, alamat, jenis kelamin, usia/tanggal lahir, dan keluhan pertamanya. Setelah pemeriksaan, dokter tentu menambahkan beberapa informasi lainnya, penyakit yang dapat terdeteksi, tindakan yang diperlukan hingga obat yang perlu dikonsumsi.

Jika ternyata butuh tindakan pemeriksaan laboratorium, maka dokter akan memberikan saran mengapa diperlukan. Dan hasil pemeriksaan laboratorium klinik ini akan menambah daftar panjang informasi tentang seorang pasien saja.
Beruntung sajalah, jika ternyata penyakit yang diderita hanya penyakit musiman dan dapat segera disembuhkan dengan meminum obat yang telah diresepkan. Bila tidak ?

Ini hanya pada bidang kesehatan, bagaimana dengan pendidikan ? Pencatatan tetaplah diperlukan, dan bahkan mungkin akan terkesan rumit pada proses-nya, karena bermuara pada sumber informasi yang dinamis.
Bukan sekedar nama, alamat, jenis kelamin, tanggal lahir, nama orang tua, pekerjaan orang tua, tetapi juga potensi keterampilan dan potensi keterandalan fisik seseorang. Sungguh menakutkan sebuah hasil proses pendidikan yang ternyata tak pernah dilengkapi dengan sebuah pencatatan historis pembelajaran dan potensi seorang siswa bukan ?

Menilik bidang kesehatan dan bidang pendidikan saja, bidang pencatatan benar-benar memiliki peran yang tidak dapat disepelekan. Karena dengan memandang rentang peluang dalam waktu berikutnya, potensi dan peran sebuah kelompok masyarakat dalam wilayah tertentu dapatlah dilihat, sebagai menjanjikan atau justru terhambat.

Bolehlah menyampaikan bahwa adalah naif,  berpikir semudah itu diatas. Tentu saja. Tetapi akan lebih tampak sungguh-sungguh naif jika ternyata TIDAK ADA kebijakan yang berusaha keras untuk menumbuhkan budaya pencatatan yang mampu mencerminkan dinamika yang sedang berlangsung didalamnya.

Budaya Statistik, bukan saja bisa berlangsung dengan tersedianya banyak tenaga yang mahir melakukan tindakan statistik, tetapi mampu memberikan kekuatan tersendiri pada potensi-potensi mandiri yang ingin menjalankan kegiatannya dalam masyarakat.

Harus diakui, Budaya pencatatan tidaklah menjadi perhatian pada tingkat pertama atau tingkat kedua. Suasana yang masih kental dalam interaksi pengembangan kegiatan di masyarakat adalah Budaya Perijinan, yang dianggap tidak memiliki kaitan dengan pencatatan.
Mengapa demikian, karena pencatatan membutuhkan berbagai kaitan yang bukan sekedar informasi demografis tetapi juga informasi keterkaitan/korelasi dan interaksi.
Kalaupun tercatat sebenarnya tidaklah mencerminkan kaidah pencatatan, dan masih terbatas pada kebiasaan mengingat secara verbal.

Barangkali ada yang merasa telah melakukan pencatatan, tetapi sudahkah benar atau dianggap mampu menjawab kebutuhan para pengguna informasi berikutnya ?

Mari lihat berbagai buku laporan pencatatan yang diproduksi setiap kelembagaan resmi dalam ribuan wilayah Indonesia. Sudahkah diketemukan sebuah kesamaan bentuk tabel yang memudahkan cara pembacaan ? Sudahkah ditemukan bentuk halaman dan ekspresi informasi yang sama ?
Adakah informasi baru yang ternyata tidak tersajikan dalam buku laporan itu ?
Sungguh luar biasa bila ternyata pertanyaan-pertanyaan tersebut secara positif terjawab. Bila tidak, berapa besar peluang dan potensi yang hilang ?

Mari coba temukan kesan yang begitu lama dan telah ditimpakan pada kekuatan penting Biro Pusat Statistik Indonesia. Siapa yang masih merasa tak terlayani atau bahkan merasa tak butuh ?

Dan siapa sesungguhnya paling membutuhkan informasi yang sahih dari lembaga utama pencatatan negeri ini ?   

Bukan sekedar tingkat kepercayaan tunggal tanpa adanya interferensi peran kekuasaan tingkat nasional atau peran keterwakilan(representasi) para pemilik informasi di setiap sektor yang dicatat, tetapi juga bagaimana persepsi informasi sangat diperlukan berada pada jalur atau lingkup yang benar.

ImageTak perlu merasa 'penting', lalu ikut-ikutan berkampanye menguras tenaga, menyatakan pentingnya pencatatan, dan berperan tumpang-tindih dengan berbagai elemen pengelolaan pelayanan dan pengelolaan informasi lainnya.
Pencatatan dalam berbagai tataran, sudahkah dirasakan penting, lalu siapa yang merasa perlu melaksanakannya, bukan sekedar membagi tugas saja.
Dan bila belum dilihat sebagai penting atau perlu, mengapa dapat diterbitkan walau tanpa kelengkapan yang dapat dipahami sebagai sahih ?

Percuma saja menyorotkan keter-angka-an atau tabulasi namun bersumber dari pencatatan yang masih jauh dari norma-norma yang seharusnya diikuti.
Budaya selalu tumbuh dari secuil tindakan yang meluas dan menjadi kebiasaan. Jika budaya pencatatan masih saja tampak seperti mosaik lumut dinding, tentunya makin berat peluang memperoleh budaya statistik yang benar-benar berguna dalam kurun waktu berikutnya.

Indonesia. Selamat Merayakan dan Mencermati makna Hari Statistik Nasional, 26 September 2008 ini. 

Lihat juga : KOMPAS  

< Sebelum   Berikut >
 
 
Top! Top!