|
Pencatatan, aktifitas yang melelahkan, siapa pun pasti mengakui. Dari seorang siswa SD hingga seorang CEO perusahaan terkemuka, pastilah menghela napas panjang bila sudah mendengar kata 'catat'. Bila mencari jawaban mengapa semua menjadi enggan lakukan pencatatan, alasan-alasan yang diberikan bisa beraneka. Dari sekedar jawaban ringan karena malas, hingga jawaban panjang yang disimpulkan sebagai pemborosan.
Pencatatan harus diakui memiliki kegunaan, bukan sekedar kegiatan yang
berlangsung hanya karena 'musti' ada. Kegiatan yang tampaknya paling
banyak membutuhkan pencatatan adalah dalam lingkup kesehatan.
Seseorang yang datang ke tempat praktek dokter atau PUSKESMAS,
setidaknya dicatat informasi nama, alamat, jenis kelamin, usia/tanggal
lahir, dan keluhan pertamanya. Setelah pemeriksaan, dokter tentu
menambahkan beberapa informasi lainnya, penyakit yang dapat terdeteksi,
tindakan yang diperlukan hingga obat yang perlu dikonsumsi.
Jika ternyata butuh tindakan pemeriksaan laboratorium, maka dokter akan
memberikan saran mengapa diperlukan. Dan hasil pemeriksaan laboratorium
klinik ini akan menambah daftar panjang informasi tentang seorang
pasien saja.
Beruntung sajalah, jika ternyata penyakit yang diderita hanya penyakit
musiman dan dapat segera disembuhkan dengan meminum obat yang telah
diresepkan. Bila tidak ?
Ini hanya pada bidang kesehatan, bagaimana dengan pendidikan ?
Pencatatan tetaplah diperlukan, dan bahkan mungkin akan terkesan rumit
pada proses-nya, karena bermuara pada sumber informasi yang dinamis.
Bukan sekedar nama, alamat, jenis kelamin, tanggal lahir, nama orang
tua, pekerjaan orang tua, tetapi juga potensi keterampilan dan potensi
keterandalan fisik seseorang. Sungguh menakutkan sebuah hasil proses
pendidikan yang ternyata tak pernah dilengkapi dengan sebuah pencatatan
historis pembelajaran dan potensi seorang siswa bukan ?
Menilik bidang kesehatan dan bidang pendidikan saja, bidang pencatatan
benar-benar memiliki peran yang tidak dapat disepelekan. Karena dengan
memandang rentang peluang dalam waktu berikutnya, potensi dan peran
sebuah kelompok masyarakat dalam wilayah tertentu dapatlah dilihat,
sebagai menjanjikan atau justru terhambat.
Bolehlah menyampaikan bahwa adalah naif, berpikir semudah itu diatas.
Tentu saja. Tetapi akan lebih tampak sungguh-sungguh naif jika ternyata
TIDAK ADA kebijakan yang berusaha keras untuk menumbuhkan budaya
pencatatan yang mampu mencerminkan dinamika yang sedang berlangsung
didalamnya.
Budaya Statistik, bukan saja bisa berlangsung dengan tersedianya banyak
tenaga yang mahir melakukan tindakan statistik, tetapi mampu memberikan
kekuatan tersendiri pada potensi-potensi mandiri yang ingin menjalankan
kegiatannya dalam masyarakat.
Harus diakui, Budaya pencatatan tidaklah menjadi perhatian pada tingkat
pertama atau tingkat kedua. Suasana yang masih kental dalam interaksi
pengembangan kegiatan di masyarakat adalah Budaya Perijinan, yang
dianggap tidak memiliki kaitan dengan pencatatan.
Mengapa demikian, karena pencatatan membutuhkan berbagai kaitan yang
bukan sekedar informasi demografis tetapi juga informasi
keterkaitan/korelasi dan interaksi.
Kalaupun tercatat sebenarnya tidaklah mencerminkan kaidah pencatatan, dan masih terbatas pada kebiasaan mengingat secara verbal.
Barangkali ada yang merasa telah melakukan pencatatan, tetapi sudahkah
benar atau dianggap mampu menjawab kebutuhan para pengguna informasi
berikutnya ?
Mari lihat berbagai buku laporan pencatatan yang diproduksi setiap
kelembagaan resmi dalam ribuan wilayah Indonesia. Sudahkah diketemukan
sebuah kesamaan bentuk tabel yang memudahkan cara pembacaan ? Sudahkah
ditemukan bentuk halaman dan ekspresi informasi yang sama ?
Adakah informasi baru yang ternyata tidak tersajikan dalam buku laporan itu ?
Sungguh luar biasa bila ternyata pertanyaan-pertanyaan tersebut secara
positif terjawab. Bila tidak, berapa besar peluang dan potensi yang
hilang ?
Mari coba temukan kesan yang begitu lama dan telah ditimpakan pada
kekuatan penting Biro Pusat Statistik Indonesia. Siapa yang
masih merasa tak terlayani atau bahkan merasa tak butuh ?
Dan siapa sesungguhnya paling membutuhkan informasi yang sahih dari lembaga utama pencatatan negeri ini ?
Bukan sekedar tingkat kepercayaan tunggal tanpa adanya interferensi
peran kekuasaan tingkat nasional atau peran keterwakilan(representasi)
para pemilik informasi di setiap sektor yang dicatat, tetapi juga
bagaimana persepsi informasi sangat diperlukan berada pada jalur atau
lingkup yang benar.
Tak perlu merasa 'penting', lalu ikut-ikutan berkampanye menguras
tenaga, menyatakan pentingnya pencatatan, dan berperan tumpang-tindih
dengan berbagai elemen pengelolaan pelayanan dan pengelolaan informasi
lainnya.
Pencatatan dalam berbagai tataran, sudahkah dirasakan penting, lalu
siapa yang merasa perlu melaksanakannya, bukan sekedar membagi tugas
saja.
Dan bila belum dilihat sebagai penting atau perlu, mengapa dapat
diterbitkan walau tanpa kelengkapan yang dapat dipahami sebagai sahih ?
Percuma saja menyorotkan keter-angka-an atau tabulasi namun bersumber
dari pencatatan yang masih jauh dari norma-norma yang seharusnya
diikuti.
Budaya selalu tumbuh dari secuil tindakan yang meluas dan menjadi
kebiasaan. Jika budaya pencatatan masih saja tampak seperti mosaik
lumut dinding, tentunya makin berat peluang memperoleh budaya statistik
yang benar-benar berguna dalam kurun waktu berikutnya.
Indonesia. Selamat Merayakan dan Mencermati makna Hari Statistik Nasional, 26 September 2008 ini.
Lihat juga : KOMPAS
|